Idul Adha Bareng TIKI JNE, Yuk Intip Aksi Nyata Mereka dalam Menyebar Kebahagiaan!
fin.co.id - Idul Adha bareng TIKI JNE bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik hiruk-pikuk penyembelihan hewan kurban, tersimpan makna sosial dan spiritual yang mendalam. Tahun ini, JNE bersama TIKI kembali menunjukkan komitmennya untuk menyebarkan kebahagiaan hingga ke pelosok Nusantara.
“Ini adalah kegiatan rutin yang diwariskan langsung oleh founder kami,” ungkap Presiden Direktur JNE, Mohammad Feriadi, saat ditemui di lokasi pemotongan hewan kurban di Jakarta Timur, Jumat, 6 Juni 2025. Tradisi ini terus dijaga dan dilanjutkan sejak pendiri JNE wafat pada 2015 silam.
Tradisi Berbagi yang Tak Pernah Putus
Feriadi menjelaskan bahwa semangat berbagi dalam momen Idul Adha bareng TIKI JNE menjadi simbol nyata filosofi perusahaan. Menurutnya, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga menguji keikhlasan, ketakwaan, dan semangat memberi.
“Tagline kami Connecting Happiness bukan slogan semata. Kami ingin kebahagiaan itu benar-benar terasa oleh masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan,” tegas Feriadi.
Tak tanggung-tanggung, tahun ini JNE dan TIKI menyalurkan sekitar 2.500 paket daging kurban dari lokasi Jakarta Timur saja. Jumlah itu belum termasuk distribusi nasional.
Ratusan Hewan Kurban Disalurkan ke Seluruh Indonesia
Total hewan kurban yang disalurkan JNE dan TIKI secara nasional mencapai angka yang cukup besar: 70 ekor sapi dan lebih dari 130 kambing. Semua hewan ini dikirimkan melalui jaringan luas JNE dan TIKI ke berbagai cabang dan wilayah di Indonesia.
“Distribusinya menyebar ke seluruh cabang kami. Karena kami punya jaringan, kami bisa memastikan penyalurannya sampai ke pelosok,” jelas Feriadi.
Ini menunjukkan bagaimana jaringan logistik bukan hanya digunakan untuk bisnis semata, tapi juga untuk kegiatan sosial yang berdampak luas.
Besek Bambu, Upaya Bangun Ekosistem Ekonomi Lokal
Menariknya, JNE dan TIKI tak hanya memikirkan soal distribusi, tapi juga ekologi dan ekonomi. Paket daging kurban dikemas dalam besek bambu—wadah tradisional yang ramah lingkungan.
“Ini sudah kami lakukan sejak beberapa tahun lalu. Dengan menggunakan besek bambu, kita ikut mendukung para pengrajin lokal. Harapannya, mereka juga mendapatkan berkah dari kegiatan ini,” ujar Feriadi.