Trend . 07/07/2025, 22:15 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Sound horeg tengah jadi sorotan. Apakah dentuman musik keras di hajatan pedesaan ini sekadar hiburan, atau justru masalah sosial yang harus segera diatasi? Seperti dilansir berbagai sumber hari ini, 7 Juli 2025, fenomena sound horeg memicu pro dan kontra tajam, baik di dunia nyata maupun media sosial.
Dalam pembahasan sound horeg, banyak orang tak sadar bahwa tradisi ini sebenarnya berakar kuat di budaya Jawa Timur, terutama wilayah pedesaan. Prof. Dr. Budiawan, Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Indonesia, menjelaskan sound horeg sebagai wujud ekspresi seni rakyat yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat akan hiburan.
“Di Jawa Timur, khususnya beberapa daerah, sound horeg sudah menjadi semacam kompetisi. Siapa yang punya sound system lebih besar dan lebih keras, dianggap paling hebat,” ujar Prof. Budiawan kepada Disway.id, Senin, 7 Juli 2025.
Menurutnya, bagi masyarakat desa yang jarang mendapat hiburan massal, sound horeg menjadi daya tarik utama setiap hajatan. “Semakin keras dan menggelegar, semakin dianggap sukses. Ada kebanggaan besar bagi pemilik sound system,” tambahnya.
Namun, fenomena sound horeg mendapat respons berbeda di ranah digital. Video-video sound horeg sering viral dengan komentar pedas. Banyak warganet mengeluh soal kebisingan, gangguan warga sekitar, hingga risiko kesehatan.
Dr. Nurul Hikmah, Sosiolog Komunikasi dari Universitas Indonesia, menilai perbedaan ini wajar. “Masyarakat pedesaan punya toleransi kebisingan lebih tinggi. Mereka menganggapnya bagian dari pesta yang sementara,” katanya.
Berbeda dengan masyarakat digital yang, menurut Dr. Nurul, memandang sound horeg lebih kritis. “Media sosial adalah ruang publik global. Pandangan di sana lebih beragam dan sering menyoroti dampak lingkungan atau kesehatan,” jelasnya.
Meski pro kontra terus bergulir, para ahli sepakat sound horeg butuh pendekatan bijak. Prof. Budiawan mengusulkan dialog antara pemerintah daerah, komunitas seniman, dan masyarakat.
“Pemerintah daerah, seniman, dan komunitas perlu duduk bersama. Bagaimana caranya agar ekspresi seni ini tetap hidup tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan masyarakat?” tegas Prof. Budiawan.
Fenomena sound horeg memang bukan sekadar soal musik keras. Di balik dentumannya, tersimpan persoalan sosial, kebanggaan budaya, hingga tuntutan penyesuaian dengan norma ruang publik modern. (Hasyim Ashari)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media