Stroke Usia Muda Meningkat Akibat Stres dan Pola Hidup Tidak Sehat

lifestyle.fin.co.id - 29/10/2025, 16:17 WIB

Stroke Usia Muda Meningkat Akibat Stres dan Pola Hidup Tidak Sehat

Ilustrasi Pekerja Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak.

fin.co.id - Stroke tidak hanya menyerang lansia. Dokter spesialis neurologi dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.N, Subsp. NIOO(K), FINS, FINA mengungkapkan, kasus stroke pada usia muda di bawah 40 tahun cenderung meningkat. Salah satu pemicu utama adalah tingginya beban kerja yang menimbulkan stres.

“Faktor risiko stroke-nya kelihatannya ada perubahan dari perilaku hidup, kalau yang tinggal di perkotaan mungkin karena beban kerja stresnya tinggi, ditambah mungkin kebiasaan merokok jadi peningkatan makin banyak,” ujar Bambang dalam diskusi virtual memperingati Hari Stroke Sedunia di Jakarta, Selasa.

Secara teori, stroke biasanya dialami oleh mereka yang berusia 45 tahun ke atas. Namun, fakta di lapangan menunjukkan tren meningkatnya stroke di usia produktif. Tekanan pekerjaan yang tinggi, stres berkepanjangan, dan kebiasaan merokok menjadi kombinasi risiko yang berbahaya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada otak, tetapi juga mengganggu organ lain, seperti jantung, sehingga dapat memicu hipertensi atau masalah koroner pada perokok berat.

Bambang menjelaskan, pada perokok berat, nikotin yang menempel di dinding pembuluh darah dapat membentuk plak dan mempersempit aliran darah. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadi stroke, termasuk serangan lumpuh sebelah, meski frekuensinya tidak selalu tinggi. Deteksi dini penyempitan pembuluh darah menjadi kunci penting untuk mencegah stroke yang lebih berat.

“Poinnya dari faktor risikonya yang harus dikendalikan karena kalau tidak dikendalikan, ya dia akan berulang atau lebih berat lagi pemulihan,” jelas Bambang, yang juga praktik di RS Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono.

Penanganan cepat oleh dokter menjadi penentu utama tingkat kesembuhan pasien stroke, baik pada usia muda maupun lanjut. Semakin cepat ditangani, semakin baik proses pemulihannya. Oleh sebab itu, pemeriksaan menyeluruh sangat dianjurkan bagi pasien stroke muda. Evaluasi mencakup faktor risiko jantung, komponen darah, dan kelainan bawaan, agar risiko stroke tidak bertambah berat.

Selain itu, gaya hidup sehat menjadi kunci pencegahan stroke. Bambang menekankan pentingnya mengurangi konsumsi junk food dan makanan instan. Sebaliknya, memperbanyak asupan makanan bergizi, rutin mengonsumsi buah sebagai camilan, dan memilih pola makan seimbang dapat membantu menurunkan risiko stroke.

Rutin berolahraga juga terbukti efektif. Jalan kaki selama 30 hingga 60 menit setiap hari dapat membantu mengontrol tekanan darah dan menjaga fungsi jantung tetap optimal. Selain itu, asupan air putih yang cukup, sekitar dua liter per hari, juga penting. Konsumsi kopi atau teh sebaiknya dibatasi agar tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh.

Dengan meningkatnya angka stroke di kalangan usia muda, masyarakat diharapkan lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Deteksi dini, pengendalian faktor risiko, dan perubahan gaya hidup menjadi langkah preventif yang dapat menyelamatkan nyawa. Menunda pencegahan bukan pilihan, karena stroke dapat terjadi kapan saja, bahkan saat usia masih produktif.

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis FIN.CO.ID