Bahaya Mengintai! Honeymoon Cystitis Hantui Pengantin Baru

lifestyle.fin.co.id - 20/11/2025, 11:28 WIB

Bahaya Mengintai! Honeymoon Cystitis Hantui Pengantin Baru

Kupas tuntas honeymoon cystitis. Foto: Freepik.

fin.co.id - Fenomena honeymoon cystitis kembali ramai dibicarakan di media sosial. Banyak pasangan baru yang mengaku merasakan nyeri saat buang air kecil atau rasa tidak nyaman setelah beberapa hari menikah. Kondisi ini memang sering muncul setelah frekuensi hubungan intim meningkat. Namun, banyak orang salah kaprah dan langsung mengira dirinya mengalami infeksi saluran kemih (ISK).

Supaya nggak panik, yuk simak penjelasan lengkap dari Dr. dr. Gita Pratama, Sp.OG, Subsp. FER., M.Rep.Sc, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi.

Apa Itu Honeymoon Cystitis?

Menurut dr. Gita, honeymoon cystitis termasuk fenomena yang sering terjadi pada pasangan baru. Banyak orang mengidentikkan kondisi ini dengan infeksi. Padahal, dr. Gita menegaskan bahwa penyebab utamanya adalah iritasi, bukan infeksi.

“Fenomena ini memang karena bulan madu, jadi mungkin frekuensi hubungannya juga sering, jadi terjadi iritasi, bukan infeksi,” jelasnya.

Iritasi tersebut terjadi pada area uretra, yaitu saluran yang berada di antara kandung kemih dan vagina. Saat area itu teriritasi, muncul sensasi perih saat buang air kecil, rasa terbakar, atau ketidaknyamanan yang mengganggu aktivitas.

Kenapa Honeymoon Cystitis Bisa Terjadi?

Ada beberapa pemicu utama yang perlu diperhatikan:

1. Frekuensi hubungan intim yang meningkat

Pada masa awal menikah, aktivitas seksual biasanya lebih sering dari biasanya. Gesekan berulang dapat menyebabkan iritasi pada uretra, terutama jika pelumasan kurang optimal.

2. Kebersihan area genital kurang terjaga

Dr. Gita mengingatkan pentingnya menjaga higienitas, terutama saat menggunakan kamar kecil di tempat umum yang rentan terkontaminasi bakteri.

“Tentu saja higienitas perlu dijaga ya, jadi terutama kalau misalnya di tempat-tempat umum, kamar kecil, hati-hati karena bisa saja terkontaminasi bakteri,” ujarnya.

3. Terganggunya keseimbangan bakteri baik dalam vagina

Dulu, peneliti beranggapan bahwa rahim tidak memiliki bakteri. Namun, studi modern menunjukkan bahwa vagina serta rahim memiliki ekosistem bakteri baik dan bakteri jahat.

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis FIN.CO.ID