Waspada Morning Surge! Lonjakan Tekanan Darah Pagi Bisa Picu Stroke dan Serangan Jantung

lifestyle.fin.co.id - 20/11/2025, 17:19 WIB

Waspada Morning Surge! Lonjakan Tekanan Darah Pagi Bisa Picu Stroke dan Serangan Jantung

Morning surge bisa picu stroke dan serangan jantung. Foto: Freepik.

fin.co.id - Tekanan darah tinggi ternyata lebih berbahaya daripada yang sering kita kira. Dokter Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul Diapari Situmorang, Sp.PD-KGH, menegaskan masyarakat harus mewaspadai fenomena morning surge, atau lonjakan tekanan darah di pagi hari. Fenomena ini menjadi salah satu pemicu utama stroke dan serangan jantung, khususnya bagi pasien hipertensi.

Menurut dr. Tunggul, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap hipertensi membuat banyak orang tidak mengetahui kondisi mereka sampai komplikasi serius muncul. "Hipertensi dijuluki the silent killer bukan tanpa alasan. Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi diam-diam dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah," jelasnya dalam diskusi “The Science Behind: The Importance of 24-hour Hypertension Management” di Jakarta, Kamis lalu.

Morning Surge: Risiko Tinggi di Pagi Hari

Tekanan darah mengikuti ritme sirkadian tubuh. Puncak risiko terjadi antara pukul 06.00 hingga 10.00 pagi, saat tubuh bangun dan aktivitas meningkat. Pada fase ini, lonjakan tekanan darah bisa terjadi tiba-tiba. Bagi pasien hipertensi derajat 2 dan 3, risiko stroke dan serangan jantung meningkat signifikan.

dr. Tunggul menekankan pentingnya pemeriksaan rutin tekanan darah, baik di pagi maupun malam hari. Mencatat hasil pengukuran sendiri dan mengonsumsi obat antihipertensi sesuai anjuran dokter sangat krusial untuk mencegah komplikasi.

Fakta Mengerikan tentang Hipertensi

Di Indonesia, proporsi pasien hipertensi yang belum terkendali masih sangat tinggi, mencapai 81,1 persen. Banyak dari mereka baru menyadari kondisi ini setelah mengalami komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung.

Secara global, data WHO menunjukkan 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi, namun hanya 23 persen yang berhasil mengendalikan tekanan darahnya. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 30,8 persen pada penduduk berusia ≥18 tahun, sementara yang berhasil mengontrol tekanan darah hanya 18,9 persen.

Kendali Hipertensi Ada di Tangan Anda

dr. Tunggul menegaskan bahwa pengendalian hipertensi tidak hanya tugas dokter. Pasien memiliki peran besar. Dokter hanya dapat menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien. Artinya, disiplin pasien dalam mencatat tekanan darah dan mengonsumsi obat menjadi kunci utama.

Selain itu, gaya hidup sehat adalah fondasi penting untuk menurunkan risiko komplikasi. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal
  • Membatasi konsumsi garam
  • Rutin olahraga 30 menit selama 3–5 hari per minggu
  • Berhenti merokok

Tidak hanya itu, penurunan tekanan darah sedikit saja dapat memberikan efek besar. dr. Tunggul mencontohkan, penurunan 10 mmHg tekanan sistolik mampu mengurangi risiko stroke, kejadian kardiovaskular, hingga gagal jantung.

Fenomena morning surge menjadi alarm penting bagi pasien hipertensi. Dengan pengukuran rutin, disiplin minum obat, dan gaya hidup sehat, risiko stroke dan serangan jantung bisa ditekan secara signifikan. Jangan tunggu sampai gejala muncul, karena hipertensi diam-diam bisa merusak organ vital. (ANT)

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis FIN.CO.ID