Ibu Bekerja Makin Banyak, Ini Kunci Menjaga Karier dan Keluarga Tetap Seimbang

lifestyle.fin.co.id - 30/12/2025, 16:20 WIB

Ibu Bekerja Makin Banyak, Ini Kunci Menjaga Karier dan Keluarga Tetap Seimbang

Psikolog ungkap kunci menjaga keseimbangan karier dan keluarga agar tetap sehat dan berkelanjutan. Foto: Freepik.

fin.co.id - Fenomena ibu bekerja di Indonesia terus menunjukkan tren menanjak. Di satu sisi, peluang karier bagi perempuan semakin terbuka lebar. Namun di sisi lain, tantangan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga ikut meningkat. Tekanan menjalankan dua peran sekaligus kerap membuat banyak ibu merasa terjepit, seolah harus selalu sempurna di rumah dan di kantor. Situasi inilah yang kini menjadi sorotan para ahli.

Psikolog Cecilia Helmina E., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa keseimbangan kerja dan keluarga bagi ibu bekerja tidak semata soal manajemen waktu. Faktor penentunya jauh lebih luas, mulai dari kuatnya dukungan keluarga, pembagian peran yang adil, hingga kualitas interaksi dengan anak. Cecilia, yang salah satunya berpraktik di RS Mitra Keluarga, menilai tekanan yang dirasakan ibu bekerja sering kali lebih besar dibandingkan ayah.

Menurut Cecilia, berbagai studi menunjukkan ibu cenderung menghadapi tuntutan emosional yang lebih tinggi. Ibu tidak hanya bertanggung jawab pada pekerjaan profesional, tetapi juga memastikan pengasuhan anak dan urusan rumah tangga tetap berjalan baik. Kondisi ini membuat banyak ibu merasa harus selalu “siaga”, bahkan ketika hari kerja sudah berakhir.

“Berbagai studi menunjukkan ibu cenderung merasakan tuntutan emosional yang lebih tinggi karena harus memastikan urusan pekerjaan dan pengasuhan berjalan seimbang,” ujar Cecilia dalam keterangan resmi Unicharm, Selasa.

Jangan Ragu Minta Bantuan

Cecilia menekankan pentingnya keberanian ibu bekerja untuk meminta bantuan. Dukungan bisa datang dari pasangan, anggota keluarga lain, maupun tenaga profesional. Dengan pembagian peran yang jelas dan adil, beban tidak akan menumpuk pada satu pihak saja. Pola kerja sama di rumah, menurutnya, menjadi fondasi penting agar ibu dapat menjalani peran ganda dengan lebih sehat.

Pembagian tugas rumah tangga yang setara juga membantu mengurangi rasa bersalah yang sering muncul pada ibu bekerja. Ketika peran dibagi secara adil, ibu tidak lagi merasa harus mengurus semuanya sendiri. Situasi ini memberi ruang bagi ibu untuk tetap fokus pada pekerjaan tanpa mengorbankan keharmonisan keluarga.

Kualitas Interaksi Lebih Penting dari Durasi

Selain dukungan keluarga, Cecilia menyoroti aspek yang sering terlewat, yakni kualitas interaksi ibu dan anak. Banyak ibu bekerja merasa bersalah karena waktu bersama anak terasa terbatas. Padahal, menurut Cecilia, kualitas kehadiran jauh lebih bermakna dibandingkan lamanya kebersamaan.

“Kualitas interaksi tidak ditentukan oleh seberapa lama ibu bersama anak, tetapi bagaimana kehadiran ibu itu dirasakan. Biasakan untuk benar-benar hadir, misalnya dengan berbincang saat makan bersama atau sebelum anak tidur,” jelasnya.

Ia menyarankan ibu untuk benar-benar hadir saat bersama anak. Contohnya, dengan mengajak anak berbincang ketika makan bersama atau sebelum tidur. Momen sederhana seperti ini mampu membangun kedekatan emosional yang kuat, meski waktu kebersamaan tidak terlalu panjang.

Cecilia juga mengingatkan agar ibu bekerja membatasi urusan kantor saat sudah berada di rumah. Dengan memisahkan waktu kerja dan waktu keluarga, ibu dapat menjaga kualitas hubungan dengan anak sekaligus memulihkan energi setelah hari yang panjang.

Tren Ibu Bekerja Terus Meningkat

Peningkatan jumlah ibu bekerja sejalan dengan berkembangnya peran perempuan di berbagai sektor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat jumlah tenaga profesional perempuan di Indonesia telah mencapai 50 persen. Angka ini naik sekitar dua persen dibandingkan tahun 2020. Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi perempuan, termasuk ibu bekerja, semakin signifikan dalam dunia profesional.

Kondisi ini mendorong perusahaan untuk beradaptasi. Lingkungan kerja yang ramah terhadap ibu bekerja kini menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar nilai tambah. Tanpa dukungan yang memadai, risiko kelelahan dan stres berkepanjangan akan semakin besar.

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis gaya hidup yang berfokus pada tren kecantikan dan fenomena viral. Berdedikasi mengulas tips perawatan diri yang praktis serta kurasi tren terkini di media sosial. Menyajikan informasi yang inspiratif, akurat, dan relevan bagi kebutuhan gaya hidup modern