fin.co.id - Islam memandang pernikahan bukan sekadar ikatan emosional, melainkan ibadah terpanjang bagi seorang Muslim. Dalam perjalanan membina rumah tangga, suami dan istri memikul tanggung jawab besar untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Namun, realita di lapangan seringkali menghadirkan tantangan yang menguji keteguhan komitmen tersebut.
Suami memiliki peran sebagai pemimpin (qawwam) yang wajib membimbing istri. Di sisi lain, istri memiliki kewajiban untuk menaati suami selama perintah tersebut tidak melanggar syariat. Ketika dinamika ini timpang karena perilaku istri yang menyimpang dari koridor agama, Islam memberikan panduan mengenai kriteria pasangan yang sulit untuk dipertahankan.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai ciri-ciri istri yang tidak pantas dipertahankan menurut perspektif Islam guna menjaga martabat keluarga.
1. Pembangkangan yang Berlarut (Nusyuz)
Ketaatan istri kepada suami merupakan salah satu kunci surga. Namun, ketika seorang istri mulai membangkang atau sengaja tidak patuh terhadap arahan baik suaminya, kondisi ini disebut sebagai nusyuz. Rasulullah SAW menegaskan bahwa wanita terbaik adalah yang menyenangkan saat dipandang dan taat saat diperintah.
Jika istri terus-menerus menentang bimbingan suami untuk berbuat kebaikan, hal ini dapat merusak struktur kepemimpinan dalam rumah tangga. Suami perlu melakukan upaya persuasif dan edukatif terlebih dahulu, namun jika karakter pembangkang ini menjadi watak permanen, keberlangsungan rumah tangga patut menjadi bahan pertimbangan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadisnya yang berbunyi:
قيل لرسول الله صلى الله عليه وسلم اي النساء خير قال التي تسره اذا نظر وتطيعه اذا امر ولا تخالفه في نفسها ومالها بما يكره
Artinya:
"Pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW, "Siapakah wanita yang paling baik?" Jawab beliau, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci." (HR. An-Nasai dan Ahmad)
2. Memiliki Hasrat Menuntut yang Berlebihan
Rasa syukur adalah fondasi kebahagiaan. Islam sangat menekankan pentingnya istri merasa cukup atas nafkah yang suami berikan sesuai kemampuan. Sebaliknya, istri yang memiliki hasrat tinggi untuk terus menuntut hal-hal di luar batas kemampuan finansial suami dapat menjerumuskan keluarga pada kehancuran.
Tuntutan yang melampaui batas mencerminkan hilangnya sifat qanaah (merasa cukup). Perilaku ini tidak hanya membebani mental suami, tetapi juga menjauhkan keberkahan dari dalam rumah. Allah SWT tidak menyukai hamba-Nya yang kufur nikmat dan terlalu mengejar kemegahan duniawi secara berlebihan.
3. Lalai Terhadap Kewajiban demi Kesenangan Pribadi
Komitmen dalam pernikahan menuntut adanya pembagian peran yang seimbang. Saat ini, banyak gangguan eksternal seperti media sosial atau gaya hidup yang membuat seseorang lupa akan kewajiban utamanya. Istri yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri—baik itu hobi, pergaulan, maupun pekerjaan—hingga mengabaikan pengasuhan anak dan kebutuhan rumah tangga, telah mencederai akad pernikahan.
Lalai terhadap kewajiban rumah tangga tanpa alasan syar'i menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab. Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk istri sebagai pemimpin di dalam rumah suaminya.
4. Menolak Menutup Aurat dan Menjaga Kehormatan
Pakaian seorang Muslimah adalah identitas sekaligus pelindung kehormatan. Suami berkewajiban mengingatkan istrinya untuk berpakaian sesuai syariat Islam. Jika seorang istri tetap bersikeras memamerkan aurat (tabarruj) di depan umum meski sudah mendapatkan teguran halus, hal ini menunjukkan lemahnya rasa malu dan ketaatan kepada Allah.
Ketidakmauan istri menjaga cara berpakaian dapat menimbulkan fitnah bagi dirinya sendiri maupun suaminya. Dalam Islam, suami yang membiarkan istrinya mengumbar aurat tanpa rasa cemburu disebut dayyuts, dan perilaku ini sangat dilarang dalam agama.
5. Melakukan Pengkhianatan atau Perselingkuhan
Kepercayaan adalah mata uang tertinggi dalam pernikahan. Perselingkuhan atau hadirnya orang ketiga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap janji suci di hadapan Allah. Istri yang mendua tidak hanya merusak hubungan emosional, tetapi juga mencoreng nasab dan kehormatan keluarga.
Zina atau mendekati zina adalah dosa besar. Jika seorang istri tidak menunjukkan penyesalan yang sungguh-sungguh atau terus mengulangi perbuatannya, Islam memberikan jalan keluar berupa perceraian demi menjaga kesucian nasab dan martabat sang suami.
6. Menolak Melayani Suami Tanpa Alasan Syar'i
Pelayanan biologis merupakan hak suami dan kewajiban istri yang diatur secara tegas dalam Islam. Aktivitas ini bukan sekadar pemuasan hasrat, melainkan sarana untuk menjaga pandangan suami agar tetap setia.
Seorang istri yang sengaja menolak ajakan suami untuk berhubungan intim tanpa alasan kesehatan atau kondisi darurat lainnya dapat mengundang murka malaikat hingga waktu subuh. Penolakan yang berulang tanpa alasan logis menunjukkan hilangnya rasa cinta dan kepedulian terhadap kebutuhan fitrah pasangan.
7. Gemar Berkata Kasar dan Menghina Suami
Lisan yang tajam bisa lebih menyakitkan daripada luka fisik. Istri yang gemar mencaci, merendahkan martabat, atau mengeluarkan kata-kata kasar kepada suaminya telah merusak keharmonisan komunikasi. Islam mengajarkan agar setiap Muslim menjaga lisannya agar tetap santun.
Menghormati suami bukan berarti merendahkan diri, melainkan bentuk penghargaan atas perjuangan suami dalam mencari nafkah. Istri yang tidak lagi menghargai suaminya dan justru sering mencela akan membuat rumah tangga terasa panas dan jauh dari rahmat Allah. (*#).
7 Kriteria Istri yang Tidak Layak Dipertahankan Menurut Islam
lifestyle.fin.co.id - 03/01/2026, 09:00 WIB
Tim Redaksi
7 Kriteria Istri yang Tidak Layak Dipertahankan Menurut Islam