fin.co.id - Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW dipandang sebagai mukjizat yang melampaui hukum alam. Namun, jika ditelaah dengan kacamata fisika modern, peristiwa ini justru membuka ruang refleksi menarik tentang batas kemampuan manusia dalam memahami alam semesta.
Guru Besar Teori Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Agus Purwanto, menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj tidak dapat dijelaskan menggunakan Teori Relativitas Khusus yang berkaitan dengan batas kecepatan cahaya.
Menurutnya, jika teori tersebut digunakan, maka Rasulullah SAW secara fisik belum akan keluar dari sistem tata surya.
Karena itu, untuk mendekati pemahaman peristiwa Isra’ Mi’raj, Prof. Agus menyebut Teori Relativitas Umum lebih relevan. Teori ini membuka kemungkinan adanya struktur ruang-waktu yang melibatkan dimensi lebih tinggi, termasuk keberadaan ruang immaterial atau gaib yang berada di sekitar kita.
“Cahaya ini diketahui oleh ilmuan dan diidentifikasi bahwa kecepatan cahaya itu 300.000 km/detik. Sehingga jika cahaya ini melingkar mengelilingi bumi, maka satu detik ini bisa mengelilingi bumi sekitar 6 sampai 7 kali,” ungkapnya dilansir dari Muhammadiyah.or.id.
Ia meneruskan, Isra sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Asho dan Mi’raj yang artinya bergerak ke langit ke tujuh (sidratul muntaha). Jika disimplikasi, maka isra’ adalah perjalanan horizontal dan mi’raj adalah perjalanan vertikal.
“Kita asumsikan kejadian mulai bakda salat isya’ atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang subuh. Jadi membutuhkan waktu 8 jam, karena perjalannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu yang sama 4 jam,” urainya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam perjalanan dilakukan bersama Buraq, maka dapat diasumsikan bahwa Rasulullah dalam peristiwa itu bergerak dengan kecepatan tertinggi dialamnya, yaitu kecepatan cahaya. Maka dalam satu jam Rasulullah bisa menempuh jarak sampai 4.320.000.000 km.
Sementara, terkait dengan tata surya, ilmuan mengidentifikasi jarak antara Matahari dengan Bumi adalah 149.600.00 km. Sehingga waktu yang diperlukan cahaya dari Matahari ke Bumi itu hanya 8 menit. Prof Agus menerangkan, jika demikian, cahaya yang dirasakan oleh manusia di bumi adalah bukan cahaya yang dipancarkan seketika oleh matahari, melainkan cahaya yang dipancarkan 8 menit sebelumnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj yang dilakukan bersama Buraq dapat diasumsikan sebagai gerak dengan kecepatan tertinggi di alam semesta, yakni kecepatan cahaya. Dengan kecepatan tersebut, dalam rentang satu jam Rasulullah SAW secara teoritis mampu menempuh jarak hingga sekitar 4.320.000.000 kilometer.
Dalam konteks tata surya, para ilmuwan mencatat jarak rata-rata antara Matahari dan Bumi mencapai sekitar 149.600.000 kilometer.
Dengan jarak tersebut, cahaya Matahari membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk sampai ke Bumi. Prof. Agus menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa cahaya yang diterima manusia di Bumi bukanlah cahaya yang dipancarkan Matahari pada saat yang sama, melainkan cahaya yang telah dilepaskan delapan menit sebelumnya.
“Kemudian planet terluar, Neptunus itu diketahui jaraknya 4.335.000.000 km. jadi ini masih lebih besar dari jarak yang ditempuh oleh cahaya selama 4 jam, artinya Baginda Rasulullah dalam waktu 4 jam belum sampai di Neptunus. Ternyata belum sampai keluar dari Tata Surya kita,” ungkapnya.
Jadi kata dia, menghitung perjalanan Rasulullah dengan teori relativitas khusus tidak memadahi. Selain itu, jika suatu objek bergerak dengan kecepatan cahaya, maka massa nya itu akan meledak.
"Dengan demikian penjelasan ini tidak memadahi, karena itu harus kita tinggalkan" kata Prof Agus menyarankan untuk merujuk kepada QS Al Isra’ ayat 1.