fin.co.id – Setelah penantian panjang, ajang pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 resmi kembali digelar di International Expo (JiExpo) Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Februari 2026. Perhelatan tahunan ini kembali menjadi sorotan publik, khususnya para pencinta otomotif Tanah Air.
Sebagai salah satu pameran otomotif terbesar di Indonesia, IIMS 2026 dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan dan kebangkitan industri otomotif nasional. Kehadiran berbagai pelaku industri, inovasi kendaraan, hingga teknologi terbaru diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi sektor tersebut.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita turut menegaskan pentingnya IIMS 2026 sebagai pengungkit pemulihan industri otomotif. Ia berharap tingginya animo masyarakat terhadap pameran ini dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan industri ke depan.
"Dan dari sini juga saya harapkan (IIMS 2026) bisa menjadi ruang strategis untuk stakeholders bisa berkembang konsumen, dari seluruh usia, serta bisa saling mendapatkan masukan, memperluas, memasuki, serta meningkatkan investasi dan inovasi di sektor kompetitif," tutur Menperin Agus saat membuka IIMS 2026 di Jakarta International Expo (Jiexpo) Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Februari 2026.
Lebih jauh, Agus menyampaikan bahwa penyelenggaraan IIMS 2026 juga sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mendorong penggunaan kendaraan rendah karbon di masyarakat. Upaya ini menjadi bagian dari strategi transisi menuju industri otomotif yang lebih ramah lingkungan.
"Hingga saat ini sejak tahun 2015, sejumlah perusahaan telah berpartisipasi dalam program ini, dan telah memproduksi berbagai jenis kendaraan rendah karbon," ujar Menperin Agus.
Dorong Daya Saing dan Investasi
Dalam rangka meningkatkan daya saing industri serta menarik minat investasi, Kementerian Perindustrian juga terus menyempurnakan kebijakan terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Agus menjelaskan bahwa penetapan batas minimal TKDN dilakukan secara bertahap sesuai dengan peta jalan yang telah ditetapkan.
"Jadi tahapannya minimal 40 persen tahun ini, minimal 40 persen tahun 2026, 60 persen tahun 2029, dan kami harapkan akan bisa mencapai 80 persen pada tahun 2030," jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini sudah terdapat tujuh perusahaan produsen yang memiliki capaian TKDN di kisaran 40 hingga 80 persen. Dengan skema perhitungan TKDN yang lebih sederhana, Agus optimistis proses evaluasi dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan terjangkau.
"Lalu, di hari ini telah ada tujuh perusahaan produser hidroelastik yang memiliki TKDN 40 hingga 80 persen. Ini dimana melakukan cara perhitungan mudah TKDN, akan ada hasil yang mudah,hasil yang cepat, dan pasti lebih murah untuk mendapatkan angka, yaitu angka yang membuat kita seperti ini," pungkasnya.
Bianca Khairunnisa/Disway