fin.co.id - Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang baligh dan sehat.
Namun, bagi penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi, berpuasa tidak selalu dianjurkan tanpa pertimbangan medis.
Kondisi fisik individu sangat menentukan apakah puasa aman dilakukan atau berisiko bagi kesehatan.
Faktor Risiko Puasa bagi Penderita Darah Tinggi
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah dalam arteri meningkat secara konsisten, sehingga membebani jantung dan pembuluh darah.
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan pola makan, minum, dan aktivitas fisik yang dapat memengaruhi tekanan darah.
Beberapa faktor risiko yang harus diperhatikan antara lain:
-
Tekanan Darah Tidak Terkontrol
Penderita yang tekanan darahnya tidak stabil atau sering mengalami lonjakan tinggi (misalnya >180/120 mmHg) tidak dianjurkan berpuasa, karena risiko stroke, serangan jantung, atau komplikasi ginjal meningkat.
-
Mengonsumsi Obat Rutin
Banyak penderita hipertensi membutuhkan obat di jam tertentu. Puasa bisa mempersulit jadwal minum obat, sehingga tekanan darah menjadi tidak stabil.
-
Penyakit Penyerta
Penderita hipertensi dengan penyakit lain seperti diabetes, gagal ginjal, atau penyakit jantung berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum puasa.
-
Gejala Hipotensi atau Dehidrasi
Beberapa orang dengan hipertensi bisa mengalami penurunan tekanan darah atau dehidrasi saat puasa, terutama jika tidak minum cukup saat sahur atau berbuka. Kondisi ini bisa menyebabkan pusing, lemas, atau pingsan.
Kapan Penderita Darah Tinggi Disarankan Tidak Berpuasa
Berdasarkan panduan medis dan fikih kontemporer, penderita hipertensi tidak dianjurkan berpuasa jika:
-
Tekanan darah sangat tinggi atau tidak stabil
-
Mengalami komplikasi organ akibat hipertensi
-
Memerlukan obat-obatan yang harus diminum lebih dari sekali dalam sehari secara rutin
-
Berisiko mengalami dehidrasi berat atau efek samping obat saat puasa
Bagi mereka yang tetap ingin berpuasa, dokter biasanya menyarankan penyesuaian obat dan pemantauan tekanan darah secara rutin, serta cukup minum saat sahur dan berbuka untuk menghindari dehidrasi.
Kesimpulan
Puasa bagi penderita darah tinggi tidak selalu aman, terutama bagi yang tekanan darahnya tidak terkontrol atau memiliki komplikasi serius.
Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk menilai risiko individu, mengatur jadwal obat, dan memastikan puasa dapat dijalankan tanpa membahayakan kesehatan.
Pengetahuan medis modern menegaskan pentingnya pengawasan, hidrasi, dan kontrol tekanan darah bagi penderita hipertensi saat Ramadan.
Referensi:
High Blood Pressure (Hypertension), Mayo Clinic
Managing Hypertension During Ramadan, Journal of Human Hypertension
Islamic Rulings on Fasting with Chronic Illness, Fiqh Council of North America