Tradisi Unik Ramadan di Berbagai Negara di Dunia

lifestyle.fin.co.id - 13/02/2026, 12:45 WIB

Tradisi Unik Ramadan di Berbagai Negara di Dunia

Ramadan di Turki, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momen budaya yang kaya makna di berbagai belahan dunia. Meskipun inti puasa tetap sama, yaitu menahan diri dari terbit fajar hingga terbenam matahari, setiap negara memiliki tradisi khas yang tumbuh dari sejarah, nilai sosial, dan budaya lokal masing-masing. Perpaduan antara spiritualitas dan kearifan lokal inilah yang menjadikan Ramadan terasa unik di setiap tempat.

Secara sosiologis, bulan Ramadan sering kali memperkuat solidaritas sosial. Penelitian dalam Journal of Muslim Minority Affairs menunjukkan bahwa praktik keagamaan kolektif selama Ramadan berkontribusi pada peningkatan kohesi sosial di berbagai komunitas Muslim di dunia. Tradisi-tradisi yang berkembang bukan hanya simbol perayaan, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan identitas budaya.

Mesir dengan Lentera Fanous yang Ikonik

Di Mesir, Ramadan identik dengan lentera warna-warni yang disebut fanous. Lentera ini digantung di rumah, jalanan, dan toko-toko sebagai simbol kegembiraan menyambut bulan suci. Tradisi fanous diyakini telah ada sejak masa Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10.

Fanous bukan hanya dekorasi, melainkan simbol cahaya spiritual. Dalam kajian budaya Timur Tengah yang dipublikasikan dalam Middle East Journal, simbol cahaya sering dikaitkan dengan harapan, petunjuk, dan pencerahan batin. Karena itu, lentera Ramadan mencerminkan makna spiritual sekaligus identitas nasional Mesir.

Turki dan Tradisi Penabuh Drum Sahur

Di Turki, tradisi penabuh drum sahur masih dipertahankan hingga kini. Para penabuh drum berjalan menyusuri lingkungan permukiman menjelang waktu sahur untuk membangunkan warga. Tradisi ini telah berlangsung sejak era Kesultanan Utsmaniyah.

Meski teknologi modern seperti alarm sudah tersedia, tradisi ini tetap lestari sebagai bentuk pelestarian warisan budaya. Studi tentang warisan budaya takbenda yang dimuat dalam International Journal of Heritage Studies menyebutkan bahwa praktik tradisional yang dipertahankan secara kolektif memperkuat identitas dan rasa memiliki suatu komunitas.

Indonesia dengan Tradisi Ngabuburit dan Padusan

Di Indonesia, Ramadan memiliki nuansa yang sangat khas. Sebagian masyarakat Jawa menjalankan tradisi padusan sebelum Ramadan dimulai, yaitu mandi bersama di sumber mata air sebagai simbol penyucian diri.

Menjelang waktu berbuka, masyarakat mengenal istilah ngabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu magrib dengan berbagai aktivitas seperti berjalan-jalan atau mencari takjil. Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan sekaligus adaptasi budaya lokal terhadap praktik keagamaan.

Menurut penelitian dalam Asian Journal of Social Science, praktik budaya lokal yang menyatu dengan ibadah memperlihatkan bagaimana agama dapat berinteraksi harmonis dengan tradisi setempat tanpa menghilangkan nilai esensialnya.

Arab Saudi dan Dentuman Meriam Ramadan

Di Arab Saudi, dentuman meriam saat berbuka puasa menjadi simbol datangnya waktu magrib. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun, sebelum adanya pengeras suara dan siaran radio.

Meriam Ramadan pada awalnya berfungsi sebagai penanda waktu resmi. Kini, ia lebih bersifat simbolis dan menjadi bagian dari warisan sejarah. Tradisi ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana di masa lalu bertransformasi menjadi simbol budaya yang terus dipertahankan.

Maroko dengan Sup Harira

Di Maroko, hampir setiap rumah menyajikan harira saat berbuka puasa. Sup kental berbahan dasar tomat, lentil, dan daging ini menjadi menu utama yang menghangatkan tubuh setelah seharian berpuasa.

Secara ilmiah, makanan hangat berkuah membantu rehidrasi dan memulihkan energi dengan lebih bertahap. Studi dalam Nutrition Reviews menjelaskan bahwa konsumsi makanan cair setelah periode puasa panjang membantu proses pencernaan kembali aktif secara optimal. Tradisi kuliner seperti harira menunjukkan bagaimana kebiasaan lokal sering kali selaras dengan prinsip kesehatan modern.

Pakistan dengan Chaand Raat

Di Pakistan, malam terakhir sebelum Idulfitri dikenal sebagai Chaand Raat, yang berarti malam bulan. Ketika hilal terlihat, pasar dan pusat perbelanjaan dipenuhi masyarakat yang merayakan datangnya hari raya.

Perempuan dan anak perempuan biasanya menghias tangan dengan henna. Tradisi ini bukan hanya perayaan, tetapi juga bentuk ekspresi budaya dan identitas kolektif. Kajian antropologi budaya menunjukkan bahwa ritual pra-perayaan memperkuat rasa kebersamaan dan transisi emosional dari bulan ibadah menuju hari kemenangan.

Inggris dan Buka Puasa Terbuka

Di Inggris, komunitas Muslim sering mengadakan buka puasa bersama di ruang publik seperti taman atau lapangan terbuka. Acara ini sering melibatkan masyarakat lintas agama dan budaya.

Tradisi ini mencerminkan nilai inklusivitas dan dialog antaragama. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Intercultural Studies, kegiatan keagamaan terbuka di ruang publik terbukti meningkatkan pemahaman dan toleransi antar komunitas.

Kesimpulan

Tradisi unik Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa nilai spiritual dapat berjalan seiring dengan kekayaan budaya lokal. Lentera di Mesir, drum sahur di Turki, ngabuburit di Indonesia, meriam di Arab Saudi, hingga hidangan khas di Maroko memperlihatkan ekspresi yang beragam namun memiliki esensi yang sama.

Ramadan bukan hanya praktik menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial, identitas budaya, dan nilai kemanusiaan. Bukti ilmiah dari berbagai studi sosiologi, antropologi, dan ilmu gizi menunjukkan bahwa banyak tradisi Ramadan memiliki relevansi dengan kesehatan, kohesi sosial, dan kesejahteraan psikologis.

Dengan demikian, keberagaman tradisi Ramadan di seluruh dunia memperlihatkan bahwa ajaran spiritual dapat beradaptasi dengan konteks budaya tanpa kehilangan makna dasarnya. Tradisi tersebut menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas sosial modern, sekaligus memperkaya khazanah peradaban global.

Referensi:

Journal of Muslim Minority Affairs
International Journal of Heritage Studies
Asian Journal of Social Science
Nutrition Reviews
Journal of Intercultural Studies




Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID