fin.co.id - Bagi warga Jakarta yang sudah bosan dengan hiruk-pikuk kemacetan dan ingin mencari suasana baru di Yogyakarta, ada satu destinasi yang tidak boleh terlewatkan. Terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Jalan Kaliurang KM 20, Sleman, Agrowisata Bhumi Merapi menawarkan pelarian sempurna dengan udara sejuk dan pemandangan ala mancanegara. Destinasi ini menjadi jawaban bagi wisatawan yang mendambakan sensasi keliling dunia tanpa harus terbang jauh ke luar negeri.
Lalang Buana Sensasi Keliling Eropa
Daya tarik utama yang menjadi magnet bagi kaum urban adalah zona Langlang Buana. Di area ini, pengelola membangun replika ikonik yang sangat presisi, mulai dari bangunan putih-biru khas Santorini di Yunani hingga rumah kayu estetik ala Pegunungan Alpen di Swiss.
Para pengunjung bisa berfoto sepuasnya di kawasan Arab Street yang eksotis atau bergaya ala detektif di Underground Baker Street khas Inggris. Agar hasil foto semakin autentik, tersedia penyewaan kostum tradisional Eropa dengan harga yang sangat terjangkau, yakni hanya 20.000 saja per jam.
Wahana Edukasi Anak-anak
Selain menjadi surga bagi pemburu konten media sosial, Bhumi Merapi juga mengusung konsep wisata edukasi yang ramah anak. Para orang tua bisa mengajak buah hati berinteraksi langsung dengan berbagai koleksi satwa unik.
Anak-anak dapat merasakan pengalaman memberi makan kelinci, menyentuh kura-kura, hingga memberikan susu melalui dot kepada anakan kambing. Seluruh kegiatan ini didampingi oleh pemandu profesional, sehingga faktor keamanan dan kenyamanan tetap terjaga selama berinteraksi dengan hewan.
Wisata Sejarah Saksi Bisu Perang Diponegoro
Bagi pencinta adrenalin dan sejarah, destinasi ini menyimpan rahasia menarik berupa Goa Ponggolo yang sudah ada sejak tahun 1825. Goa bawah tanah sepanjang 350 meter ini merupakan saksi bisu era Perang Diponegoro yang dulunya berfungsi sebagai saluran irigasi dan tempat persembunyian pejuang.
Pengunjung dapat menikmati sensasi cave tubing atau susur goa dengan aliran air abadi yang tetap jernih meskipun musim kemarau panjang melanda. Nama "Ponggolo" sendiri diambil dari sosok Kyai dan Nyi Ponggolo yang membangun goa ini secara tradisional namun sangat presisi.
Kuliner "Ndeso" Harga Merakyat di Pawon Limasan