fin.co.id - Fenomena perundungan atau bullying masih menjadi ancaman serius di lingkungan sekolah, kantor, hingga jagat maya. Di tengah maraknya kasus kekerasan tersebut, dunia memperingati Pink Shirt Day setiap hari Rabu terakhir di bulan Februari. Meski belum sepopuler hari besar lainnya di Indonesia, momentum ini membawa pesan kemanusiaan yang sangat mendalam.
Pink Shirt Day bukan sekadar gerakan mengenakan atribut berwarna merah muda. Hari ini lahir dari sebuah aksi protes berani sekelompok siswa SMA di Kanada yang menolak normalisasi penindasan. Gerakan ini membuktikan bahwa solidaritas sederhana mampu membungkam pelaku perundungan secara efektif.
Sejarah Pink Shirt Day bermula dari peristiwa pahit yang menimpa seorang siswa kelas 9 di Nova Scotia, Kanada. Siswa tersebut menjadi sasaran perundungan hebat hanya karena ia datang ke sekolah mengenakan kaus berwarna merah muda. Para pelaku merundung korban dengan ejekan bernada homofobik dan intimidasi fisik.
Melihat ketidakadilan tersebut, dua siswa senior bernama David Shepherd dan Travis Price merasa harus bertindak. Mereka tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan dengan cara yang jauh lebih kreatif dan berdampak luas.
Aksi 50 Kaus Pink yang Mengubah Keadaan
David dan Travis kemudian mendatangi sebuah toko diskon dan membeli 50 kaus tank top berwarna merah muda. Malam harinya, mereka menyebarkan pesan berantai kepada teman-teman sekolah mereka untuk ikut beraksi.
Keesokan paginya, mereka berdiri di depan gerbang sekolah sambil membawa tas plastik berisi kaus-kaus tersebut. Mereka membagikan baju merah muda kepada para siswa pria lainnya sebagai bentuk dukungan bagi korban.
Saat siswa kelas 9 yang menjadi korban perundungan tiba di sekolah, ia mendapati pemandangan luar biasa. Ratusan teman sekolahnya mengenakan warna merah muda sebagai simbol perlindungan. Saksi mata menyebut wajah korban langsung berubah haru dan penuh rasa syukur. Sejak hari itu, para pelaku perundungan tidak pernah lagi berani mengganggu siswa tersebut.
Mengapa Pink Shirt Day Penting di Indonesia?
Di Indonesia, data menunjukkan angka perundungan di sekolah masih cukup mengkhawatirkan. Pink Shirt Day menjadi pengingat bagi para pendidik dan orang tua bahwa diam terhadap perundungan adalah bentuk persetujuan.
Gerakan ini mengajarkan bahwa siapa pun bisa menjadi upstander—orang yang berani membela korban—bukan sekadar bystander atau penonton. Dengan mengenakan baju pink, masyarakat menyatakan sikap tegas bahwa tidak ada ruang bagi kekerasan atas dasar perbedaan apa pun.(*).