Mengenal Asal-Usul THR, Tradisi yang Bikin Kantong Tebal Setahun Sekali

lifestyle.fin.co.id - 08/03/2026, 11:22 WIB

Mengenal Asal-Usul THR, Tradisi yang Bikin Kantong Tebal Setahun Sekali

Simak sejarah lengkap tradisi THR di Indonesia.

fin.co.id - Siapa yang tidak menanti momen Lebaran? Selain opor ayam dan ketupat, satu hal yang paling bikin masyarakat Indonesia antusias adalah bagi-bagi THR atau Tunjangan Hari Raya. Uang baru yang masih wangi, amplop warna-warni, dan senyum sumringah keponakan menjadi pemandangan wajib setiap Idulfitri. Namun, tahukah kamu bahwa tradisi ini bukan muncul secara alami sejak zaman kerajaan? Ada sejarah panjang, intrik politik, hingga perjuangan buruh di baliknya yang jarang orang ketahui.

Jangan sampai kamu hanya sekadar bagi-bagi uang tanpa tahu asal-usulnya. Ternyata, "salam tempel" ini memiliki akar sejarah yang cukup mengejutkan dan melibatkan kebijakan pemerintah di masa lalu. Yuk, simak perjalanan panjang tradisi yang bikin kantong kita mendadak tebal setiap tahun ini!

Awal Mula THR: Kebijakan Politik Era Soekarno

Tradisi THR yang kita kenal sekarang sebenarnya berawal dari kebijakan pemerintah pada era 1950-an. Saat itu, kabinet Soekiman Wirjosandjojo memperkenalkan program pemberian tunjangan kepada para Pamong Pradja (sekarang ASN/PNS). Tujuan utamanya bukan sekadar berbagi kebahagiaan, melainkan untuk memperkuat dukungan birokrasi terhadap pemerintah yang berkuasa saat itu.

Pada tahun 1951, pemerintah membagikan tunjangan sebesar Rp125 hingga Rp200 kepada setiap pegawai. Nilai tersebut tergolong besar pada masanya. Kebijakan ini tentu saja memicu kecemburuan sosial. Kelompok buruh dan pekerja swasta merasa pemerintah bertindak tidak adil karena hanya memanjakan aparatur negara, sementara rakyat kecil yang bekerja di sektor industri harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan Lebaran yang melonjak.

Aksi Protes Buruh yang Mengubah Sejarah

Ketidakadilan ini memicu gelombang protes besar-besaran. Kaum buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi, termasuk Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), menuntut hak yang sama. Mereka berargumen bahwa kebutuhan hari raya adalah beban ekonomi bagi semua pekerja, bukan hanya pegawai pemerintah. Tekanan dari massa ini sangat kuat hingga memaksa pengusaha dan pemerintah berpikir ulang.

Perjuangan ini tidak memakan waktu sebentar. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya tunjangan tersebut menjadi hak yang legal bagi seluruh pekerja. Melalui berbagai revisi peraturan, akhirnya pada tahun 1994, pemerintah meresmikan peraturan menteri yang mewajibkan perusahaan memberikan tunjangan hari raya kepada karyawannya. Inilah tonggak sejarah yang membuat kita semua bisa menikmati ekstra cuan di akhir bulan Ramadan.

Evolusi Menjadi Tradisi "Salam Tempel"

Setelah THR menjadi kewajiban bagi perusahaan, kebiasaan ini kemudian merembet ke ranah sosial dan keluarga. Masyarakat mulai mengadopsi konsep tunjangan ini dalam bentuk yang lebih personal, yaitu bagi-bagi uang kepada anak-anak, keponakan, dan saudara yang lebih muda. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah "salam tempel".

Budaya ini juga mendapatkan pengaruh dari tradisi Tionghoa, yaitu Angpao. Interaksi budaya yang kental di Nusantara membuat masyarakat Muslim Indonesia mengadopsi cara serupa dengan menyesuaikan nilai-nilai Islam, seperti sedekah dan mempererat tali silaturahmi (ukhuwah). Bedanya, amplop Lebaran seringkali identik dengan warna hijau atau motif khas Idulfitri.

Memahami sejarah THR membuat kita lebih menghargai setiap lembar uang yang kita terima. Tradisi ini bukan sekadar pamer kekayaan, melainkan simbol perjuangan kesejahteraan dan semangat berbagi kepada sesama. Jadi, sudah siapkah kamu membagikan kebahagiaan (dan amplop) di Lebaran tahun ini?

Wanda Afifah
Wanda Afifah
Penulis

Penulis gaya hidup yang berfokus pada tren kecantikan dan fenomena viral. Berdedikasi mengulas tips perawatan diri yang praktis serta kurasi tren terkini di media sosial. Menyajikan informasi yang inspiratif, akurat, dan relevan bagi kebutuhan gaya hidup modern