Mengenal Halalbihalal: Tradisi Khas Lebaran Indonesia yang Tak Ada di Negara Lain

lifestyle.fin.co.id - 30/03/2026, 09:56 WIB

Mengenal Halalbihalal: Tradisi Khas Lebaran Indonesia yang Tak Ada di Negara Lain

Mengenal Halalbihalal: Tradisi Khas Lebaran Indonesia yang Tak Ada di Negara Lain

fin.co.id - Perayaan Idulfitri di Indonesia tidak lengkap tanpa kehadiran tradisi Halalbihalal. Momen ini menjadi ajang istimewa bagi masyarakat untuk saling bermaafan dan mempererat tali silaturahmi setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, Halalbihalal merupakan ruang sosial untuk menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat merenggang akibat kesibukan atau jarak. Suasana hangat dan penuh keikhlasan menyelimuti tradisi ini, baik dalam lingkup keluarga besar, lingkungan tetangga, hingga instansi pekerjaan.

Warisan Budaya Asli Indonesia

Melansir dari Kemenko PMK, Halalbihalal adalah identitas unik yang melekat kuat pada budaya Indonesia. Meskipun istilahnya terdengar seperti serapan dari bahasa Arab, faktanya tradisi ini tidak ditemukan di negara-negara Timur Tengah. Halalbihalal murni merupakan produk akulturasi budaya Nusantara.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ini bermakna kegiatan saling memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan. Masyarakat biasanya menyelenggarakan pertemuan ini sebagai bentuk silaturahmi formal maupun informal. Seiring perkembangan zaman, bentuknya pun kian beragam, mulai dari kunjungan rumah ke rumah, acara open house, hingga pertemuan daring saat situasi darurat seperti pandemi melanda.

Menelusuri Akar Sejarah: Dari Pedagang Martabak hingga Istana

Asal-usul istilah Halalbihalal memiliki beberapa versi sejarah yang menarik untuk kita simak. Versi pertama merujuk pada kamus Jawa-Belanda karya Dr. Th. Pigeaud tahun 1938 yang mencatat istilah alal behalal. Selain itu, ada kisah unik dari Solo sekitar tahun 1935–1936. Kala itu, seorang pedagang martabak asal India mempromosikan dagangannya dengan seruan "halal bin halal". Istilah tersebut kemudian populer dan masyarakat menggunakannya untuk menyebut kegiatan silaturahmi Lebaran.

Versi kedua membawa kita ke panggung politik nasional tahun 1948. Saat itu, kondisi politik Indonesia tengah memanas akibat perbedaan pandangan antar tokoh bangsa. KH Abdul Wahab Hasbullah kemudian menyarankan kepada Presiden Soekarno untuk mengadakan pertemuan silaturahmi.

Kiai Wahab menggunakan istilah "Halalbihalal" dengan filosofi bahwa para tokoh politik harus saling menghalalkan kesalahan masing-masing. Pertemuan di Istana Negara tersebut sukses mencairkan ketegangan dan sejak saat itu, instansi pemerintah serta masyarakat luas mulai mengadopsi tradisi ini secara masif.

Makna Mendalam: Mengurai Kekusutan

Secara etimologi, kata "halal" dalam bahasa Arab berkaitan dengan konsep "mengurai kekusutan" atau "menjernihkan keadaan". Oleh karena itu, Halalbihalal memiliki makna filosofis sebagai upaya melebur kesalahan masa lalu agar hubungan antarmanusia kembali harmonis dan bersih (halal).

Ari Nur Cahyo
Ari Nur Cahyo
Penulis

Penulis di FIN.CO.ID sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.