fin.co.id - Mainnan raksasa asal Denmark, Lego, resmi membuka toko terbesarnya di Asia Tenggara yang berlokasi di Grand Indonesia, Jakarta, Indonesia pada Jumat 24 April 2026.
Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan pembukaan Lego di Grand Indonesia karena antusias masyarakat. Sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi mainan Lego menyumbang sebesar 53 persen.
"Angka ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat Indonesia tetap stabil dan cenderung tinggi meski di tengah dinamika ekonomi global. Kekuatan konsumsi domestik inilah yang memberikan kepercayaan diri penuh bagi Lego untuk menanamkan investasi besar di tanah air," ucap Iqbal Shoffan Shofwan saat pembukaan Lego di Grand Indonesia.
Kehadiran Lego Indonesia bukan sekadar ekspansi ritel biasa. Langkah ini sejalan dengan ambisi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen.
"Saat ini, ekonomi Indonesia berada di level 5,11 persen, namun pemerintah yakin bisa melampaui angka tersebut melalui penguatan prioritas industri dan inovasi.Pemerintah menekankan bahwa meningkatkan inovasi adalah jalan tunggal untuk mencapai target pertumbuhan tersebut. Oleh karena itu, kehadiran toko Lego di Grand Indonesia ini diharapkan menjadi katalisator bagi ekosistem industri kreatif dan manufaktur di dalam negeri," terangnya.
Batam Jadi Pusat Produksi Elektronik Lego
Indonesia tidak hanya memosisikan diri sebagai pasar atau konsumen. Faktanya, beberapa komponen produk Lego elektronik sudah memulai proses produksi di Batam, Kepulauan Riau. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki infrastruktur dan tenaga kerja yang kompetitif untuk memenuhi standar kualitas internasional.
Pemerintah kini mendorong komitmen lebih lanjut dari Lego agar tidak hanya memproduksi di Batam, tetapi juga menjalin kemitraan dengan usaha kecil dan menengah (UKM) di seluruh Indonesia.
"Yang pada akhirnya, Indonesia bisa menjadi produsen tersebut di seluruh dunia," ungkapnya.
Membangkitkan Ekosistem Mainan Internasional
Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi basis produksi mainan yang kuat pada era 80-an hingga 90-an. Saat pabrik-pabrik di Hong Kong mulai mencari lokasi investasi baru sebelum bersatu dengan China pada 1997, banyak produsen yang beralih ke Serang dan Jawa Tengah.
Kini, pemerintah ingin membangkitkan kembali ekosistem tersebut. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi merek global, tetapi harus mampu menjadi produsen mainan terbesar di dunia. Kerja sama antara Kementerian Perindustrian, perusahaan ritel seperti MAP, dan investor global seperti Lego diharapkan mampu menjaga iklim industri yang sehat sekaligus memastikan daya beli masyarakat terus berjaya.(*).