Trend . 14/10/2026, 14:51 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Asap minyak goreng yang muncul saat memasak sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, minyak yang dipanaskan pada suhu tinggi dapat melepaskan berbagai senyawa kimia dan partikel ke udara yang berpotensi mengganggu kesehatan, terutama jika paparannya terjadi berulang kali dalam waktu lama.
Risiko ini perlu diperhatikan oleh orang yang setiap hari memasak, pedagang gorengan, pekerja restoran, serta siapa pun yang sering berada di dapur dengan ventilasi buruk. Meski demikian, tingkat bahayanya bergantung pada suhu minyak, durasi memasak, jenis minyak, sirkulasi udara, dan seberapa sering seseorang terpapar asap tersebut.
Asap minyak goreng terbentuk ketika minyak dipanaskan, terutama saat suhunya tinggi dan proses penggorengan berlangsung dalam waktu lama. Pada kondisi tersebut, komponen minyak dapat mengalami oksidasi dan penguraian kimia yang menghasilkan berbagai senyawa volatil serta partikel halus.
Beberapa zat yang dapat ditemukan dalam emisi penggorengan meliputi aldehida, hidrokarbon aromatik polisiklik atau PAH, dan partikel halus. Jenis serta jumlah senyawa yang dihasilkan dipengaruhi oleh suhu, komposisi minyak, bahan makanan, dan teknik memasak.
Partikel halus dapat masuk ke saluran pernapasan ketika udara yang tercemar dihirup. Sementara itu, sejumlah senyawa hasil pemanasan minyak berpotensi menyebabkan iritasi dan stres oksidatif pada sel.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker atau International Agency for Research on Cancer (IARC) telah mengevaluasi emisi dari proses penggorengan bersuhu tinggi. Dalam Monograf IARC Volume 95, emisi dari penggorengan suhu tinggi dikategorikan sebagai kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia atau Grup 2A.
Klasifikasi tersebut menunjukkan adanya potensi bahaya yang perlu diperhatikan, bukan berarti setiap orang yang menghirup asap minyak goreng pasti akan mengalami kanker.
Saluran pernapasan merupakan salah satu bagian tubuh yang pertama kali terpapar ketika seseorang menghirup asap minyak goreng. Paparan berulang dapat menimbulkan iritasi, terutama jika asap terkumpul di ruangan tertutup.
Gejala yang mungkin muncul meliputi batuk, tenggorokan terasa perih, hidung tidak nyaman, dan sesak napas pada orang yang sensitif. Paparan polutan dalam jangka panjang juga dapat berkontribusi terhadap peradangan saluran pernapasan.
Orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru sebelumnya perlu lebih berhati-hati karena polusi udara dalam ruangan dapat memperburuk gejala mereka.
Namun, perlu dibedakan antara asap minyak goreng dan polusi dari bahan bakar kompor. Jika dapur menggunakan kompor gas, pembakaran juga dapat menghasilkan polutan lain yang memengaruhi kualitas udara.
Salah satu kekhawatiran mengenai paparan asap minyak goreng dalam jangka panjang adalah kemungkinan kaitannya dengan kanker paru-paru.
Sejumlah penelitian epidemiologi, terutama yang melibatkan orang dengan paparan memasak intensif, menemukan hubungan antara paparan asap penggorengan dan peningkatan risiko kanker paru-paru. Kondisi seperti memasak dalam waktu lama, suhu penggorengan tinggi, serta tidak adanya alat pengisap asap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Sebuah tinjauan ilmiah berjudul Cooking Oil Fumes and Lung Cancer: A Review of the Literature in the Context of the U.S. Population membahas temuan penelitian mengenai hubungan asap minyak goreng dengan kanker paru-paru dan kemungkinan mekanisme biologisnya.
Beberapa senyawa yang dihasilkan selama pemanasan minyak dapat memiliki sifat mutagenik atau berpotensi merusak materi genetik dalam kondisi tertentu.
Meski demikian, hubungan tersebut tidak boleh ditafsirkan secara berlebihan. Bukti pada manusia masih memiliki keterbatasan, dan risiko seseorang juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan merokok, polusi udara, jenis bahan bakar kompor, serta lamanya paparan.
Dengan demikian, langkah yang paling masuk akal adalah mengurangi paparan secara konsisten, bukan menganggap bahwa setiap aktivitas menggoreng otomatis menyebabkan kanker.
Asap penggorengan mengandung campuran senyawa kimia dan partikel yang dapat mengiritasi jaringan tubuh. Jika paparan terjadi berulang kali, mekanisme pertahanan saluran pernapasan dapat terus menerima rangsangan dari polutan tersebut.
Dalam penelitian toksikologi, paparan asap minyak goreng telah dikaitkan dengan mekanisme stres oksidatif dan respons peradangan. Stres oksidatif terjadi ketika jumlah molekul reaktif melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya.
Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat mengganggu fungsi sel dan jaringan. Namun, besarnya dampak pada manusia dalam kehidupan sehari-hari masih bergantung pada tingkat paparan dan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan frekuensi memasak.
Karena itu, mengurangi asap yang terhirup dan memperbaiki sirkulasi udara merupakan langkah pencegahan yang penting.
Risiko kesehatan di dapur tidak selalu berasal dari minyak goreng saja. Udara dalam ruangan dapat mengandung campuran polutan dari pembakaran bahan bakar, asap makanan, partikel minyak, dan sumber lainnya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa paparan polusi udara rumah tangga, terutama dari pembakaran bahan bakar padat dan minyak tanah yang tidak efisien, berkaitan dengan penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit paru obstruktif kronis, dan kanker paru-paru.
Akan tetapi, bukti tersebut terutama berkaitan dengan polusi akibat pembakaran bahan bakar, sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa asap minyak goreng sendiri menimbulkan risiko penyakit dengan besaran yang sama.
Hal yang perlu diperhatikan adalah paparan gabungan. Seseorang yang memasak berjam-jam di dapur tertutup dengan asap penggorengan dan ventilasi buruk dapat menghirup berbagai polutan sekaligus.
Oleh sebab itu, menjaga kualitas udara dapur penting untuk mengurangi paparan yang sebenarnya bisa dicegah.
Tidak semua orang mengalami dampak yang sama ketika terpapar asap minyak goreng. Risiko dapat meningkat pada orang yang menghabiskan banyak waktu di dapur, terutama jika kondisi ventilasinya buruk.
Kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih antara lain:
Pedagang gorengan dan pekerja restoran yang menggoreng makanan selama berjam-jam setiap hari.
Orang yang memasak setiap hari di dapur tertutup tanpa ventilasi memadai.
Penderita asma atau penyakit pernapasan yang sensitif terhadap asap dan partikel udara.
Orang yang terpapar asap minyak goreng bersamaan dengan polusi dari kompor atau sumber lainnya.
Anak-anak dan orang lanjut usia juga perlu dilindungi dari udara dalam ruangan yang tercemar. Meski begitu, dampak spesifik asap minyak goreng pada setiap kelompok tidak dapat disamakan tanpa mempertimbangkan tingkat paparannya.
Mengurangi paparan tidak harus dilakukan dengan berhenti menggoreng makanan. Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga kualitas udara di dapur.
Buka jendela atau pintu jika kondisi lingkungan memungkinkan agar udara dapat berganti. Sirkulasi udara yang baik membantu mengurangi penumpukan asap di dalam ruangan.
Jika tersedia, gunakan pengisap asap atau cooker hood yang membuang udara ke luar rumah. Alat yang hanya menyaring dan mengedarkan kembali udara belum tentu mampu menghilangkan seluruh polutan.
Jangan membiarkan minyak terus dipanaskan hingga mengeluarkan asap tebal. Gunakan suhu yang sesuai dengan makanan yang sedang dimasak dan hindari meninggalkan wajan di atas kompor tanpa pengawasan.
Ketika minyak mulai mengeluarkan asap secara berlebihan, kecilkan atau matikan api dengan aman dan biarkan suhu minyak turun.
Pemanasan berulang dapat mengubah komposisi kimia minyak dan meningkatkan pembentukan produk degradasi. Kondisi minyak yang sudah gelap, berbau tidak normal, berbusa berlebihan, atau cepat berasap merupakan alasan untuk tidak terus menggunakannya.
Minyak yang masih tampak jernih sekalipun tidak selalu menjamin bahwa kualitasnya tetap baik setelah berkali-kali dipanaskan.
Jika memungkinkan, hindari berdiri tepat di atas wajan ketika minyak sedang mengeluarkan banyak asap. Gunakan alat bantu memasak yang sesuai dan jangan biarkan asap menumpuk di sekitar wajah.
Untuk pedagang makanan atau pekerja dapur, pengaturan ventilasi dan posisi alat penggorengan lebih penting daripada sekadar mengandalkan masker biasa.
Sisa minyak dan lemak yang menempel pada kompor, dinding, filter, serta saluran pengisap asap dapat mengurangi efektivitas ventilasi dan meningkatkan risiko kebakaran.
Bersihkan peralatan sesuai petunjuk produsen dan pastikan sistem pembuangan udara berfungsi dengan baik.
Paparan asap yang membuat mata perih, tenggorokan terasa terbakar, batuk terus-menerus, atau napas terasa tidak nyaman merupakan tanda bahwa kualitas udara di dapur perlu diperbaiki.
Segera menjauh dari sumber asap dan cari udara yang lebih bersih. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau gejala yang tidak membaik, segera cari pertolongan medis.
Orang yang mengalami batuk berulang atau gangguan pernapasan setiap kali memasak sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya. Gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh asap minyak goreng, sehingga pemeriksaan diperlukan jika keluhan berlanjut.
Menghirup asap minyak goreng secara berulang, terutama ketika minyak dipanaskan pada suhu tinggi dan dapur memiliki ventilasi buruk, merupakan paparan yang sebaiknya dikurangi. Penelitian menunjukkan bahwa emisi penggorengan dapat mengandung partikel dan senyawa kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan, sementara sejumlah studi juga menemukan hubungan antara paparan intensif dan risiko kanker paru-paru.
Namun, bukti ilmiah mengenai asap minyak goreng perlu dibaca secara proporsional. Temuan tentang polusi udara rumah tangga dari pembakaran bahan bakar tidak otomatis membuktikan bahwa asap minyak goreng memiliki dampak yang sama.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling rasional. Menggunakan ventilasi yang memadai, menghindari minyak terlalu panas, membatasi penggunaan minyak yang telah mengalami degradasi, dan mengurangi paparan asap dapat membantu menciptakan lingkungan memasak yang lebih sehat.
Kebiasaan sederhana tersebut penting, terutama bagi orang yang memasak setiap hari atau bekerja di dapur selama berjam-jam.
International Agency for Research on Cancer (IARC). Household Use of Solid Fuels and High-temperature Frying. IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, Volume 95, 2010.
World Health Organization (WHO). Household Air Pollution.
Cooking Oil Fumes and Lung Cancer: A Review of the Literature in the Context of the U.S. Population. Environmental Health Perspectives, 2012.
In Vivo Respiratory Toxicology of Cooking Oil Fumes: Evidence, Mechanisms and Prevention. Journal of Hazardous Materials, 2020.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media