Trend

Susu Tidak Selalu Menyehatkan, Ini Kondisi yang Perlu Diwaspadai

Susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, minuman yang sering dikaitkan dengan kesehatan

Susu Tidak Selalu Menyehatkan, Ini Kondisi yang Perlu Diwaspadai
Susu, Image: Jan_photo / Pixabay

fin.co.id - Susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, minuman yang sering dikaitkan dengan kesehatan tulang ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Kondisi pencernaan, alergi terhadap protein susu, kandungan lemak, hingga jumlah konsumsi dapat memengaruhi manfaat susu bagi kesehatan.

Bukan berarti susu harus dihindari. Hal terpenting adalah memahami kondisi tubuh, memilih jenis susu yang sesuai, dan memperhatikan jumlah yang dikonsumsi setiap hari. Dengan begitu, manfaat susu bisa diperoleh tanpa mengabaikan risiko yang mungkin muncul.

1. Mengalami Intoleransi Laktosa

Salah satu kondisi yang membuat seseorang perlu berhati-hati saat minum susu adalah intoleransi laktosa. Kondisi ini terjadi ketika usus halus tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk memecah laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.

Laktosa yang tidak tercerna dengan baik akan masuk ke usus besar dan diproses oleh bakteri. Proses tersebut dapat menghasilkan gas dan memicu gangguan pencernaan.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), gejala intoleransi laktosa dapat berupa perut kembung, banyak gas, sakit perut, mual, hingga diare. Keluhan biasanya muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung laktosa.

Meski demikian, intoleransi laktosa tidak selalu mengharuskan seseorang berhenti mengonsumsi seluruh produk susu. Sebagian orang masih dapat menoleransi sejumlah kecil laktosa.

Alternatif yang bisa dipertimbangkan meliputi susu bebas laktosa, konsumsi susu dalam porsi kecil bersama makanan, atau produk fermentasi seperti yoghurt yang mungkin lebih mudah ditoleransi. Respons setiap orang berbeda sehingga pilihan terbaik perlu disesuaikan dengan gejala yang muncul.

2. Memiliki Alergi Protein Susu

Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu. Jika intoleransi berkaitan dengan kemampuan mencerna gula susu, alergi susu melibatkan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu.

Alergi susu sapi lebih sering ditemukan pada anak-anak, meskipun orang dewasa juga dapat mengalaminya. Gejalanya dapat berupa gatal-gatal, ruam, muntah, pembengkakan pada bibir atau wajah, serta gangguan pernapasan.

Pada kasus yang berat, alergi susu dapat memicu anafilaksis, yaitu reaksi alergi serius yang berpotensi mengancam nyawa. Jika setelah minum susu seseorang mengalami sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, maupun pingsan, pertolongan medis darurat harus segera dicari.

Orang yang memiliki alergi protein susu tidak boleh menganggap susu bebas laktosa sebagai pengganti yang aman. Produk tersebut masih dapat mengandung protein susu yang memicu alergi.

Pemilihan alternatif perlu dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan. Susu nabati, seperti susu kedelai, dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi kandungan protein, kalsium, vitamin D, dan zat gizi lainnya perlu diperiksa pada label produk.

3. Mengonsumsi Terlalu Banyak Susu Tinggi Lemak

Susu sapi mengandung berbagai zat gizi penting, tetapi komposisinya berbeda menurut jenis produk. Susu full cream, misalnya, mengandung lebih banyak lemak dibandingkan susu rendah lemak atau tanpa lemak.

Sebagian lemak dalam susu merupakan lemak jenuh. Jika asupan lemak jenuh terlalu tinggi secara keseluruhan, kadar kolesterol LDL atau kolesterol yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dapat meningkat.

Karena itu, orang dengan kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung sebaiknya memperhatikan jenis susu dan pola makan secara keseluruhan. Susu rendah lemak dapat menjadi pilihan untuk mengurangi asupan lemak jenuh, terutama jika seseorang rutin mengonsumsi susu dalam jumlah besar.

Namun, bukan berarti satu gelas susu full cream otomatis membahayakan kesehatan. Dampaknya dipengaruhi oleh jumlah konsumsi, kebutuhan energi, pola makan, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Perhatikan pula produk susu yang sudah diberi tambahan gula, seperti susu dengan rasa cokelat, stroberi, atau vanila. Kandungan gula tambahan dapat meningkatkan asupan kalori harian jika dikonsumsi berlebihan.

4. Sedang Mengontrol Berat Badan

Susu dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang, tetapi jumlah dan jenisnya tetap perlu diperhitungkan bagi orang yang sedang mengontrol berat badan.

Susu mengandung energi dari protein, karbohidrat, dan lemak. Produk yang ditambah gula atau bahan berkalori lainnya dapat memberikan energi lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Jika seseorang minum beberapa gelas susu setiap hari tanpa menyesuaikan asupan makanan lainnya, jumlah kalori yang masuk dapat melebihi kebutuhan tubuh. Dalam jangka panjang, kelebihan energi secara konsisten dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.

Untuk menghindarinya, periksa informasi nilai gizi pada kemasan dan sesuaikan porsi dengan kebutuhan harian. Susu tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi orang yang ingin membatasi asupan gula tambahan.

Meski demikian, susu tidak perlu dihindari hanya karena sedang menjalani program penurunan berat badan. Kandungan protein dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi, sedangkan pemilihan jenis dan jumlah susu perlu disesuaikan dengan pola makan keseluruhan.

5. Memiliki Gangguan Ginjal dan Harus Membatasi Mineral Tertentu

Kondisi kesehatan tertentu juga dapat memengaruhi jenis susu yang sebaiknya dikonsumsi. Salah satunya adalah penyakit ginjal kronis, terutama ketika fungsi ginjal sudah menurun secara signifikan.

Susu mengandung sejumlah mineral, termasuk kalium dan fosfor. Pada orang dengan gangguan ginjal lanjut, kemampuan tubuh membuang kelebihan mineral tersebut dapat berkurang. Akibatnya, sebagian pasien mungkin perlu membatasi asupan kalium atau fosfor berdasarkan hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter.

Meski demikian, tidak semua penderita penyakit ginjal harus menghindari susu. Kebutuhan pembatasan berbeda-beda, bergantung pada fungsi ginjal, hasil laboratorium, obat yang digunakan, serta jenis terapi yang dijalani.

Pasien yang menjalani hemodialisis atau cuci darah juga perlu memperhatikan asupan protein dan mineral sesuai arahan dokter atau ahli gizi ginjal. Mengurangi susu secara sembarangan tanpa mengganti zat gizi yang diperlukan justru dapat membuat pola makan menjadi kurang seimbang.

Karena itu, orang dengan penyakit ginjal sebaiknya tidak menentukan sendiri jumlah susu yang aman dikonsumsi. Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menyesuaikan pilihan susu dengan kebutuhan masing-masing pasien.

6. Memiliki Diabetes dan Perlu Memperhatikan Asupan Gula

Penderita diabetes tidak selalu harus menghindari susu. Namun, jenis produk yang dipilih perlu diperhatikan, terutama jika susu mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.

Susu sapi tanpa tambahan gula secara alami mengandung laktosa. Gula alami ini tetap merupakan karbohidrat yang dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Sementara itu, susu kental manis, minuman susu dengan rasa tertentu, dan sejumlah produk susu siap minum dapat mengandung tambahan gula yang perlu diperhitungkan dalam pola makan.

Konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dapat menyulitkan pengendalian asupan karbohidrat dan kalori. Oleh sebab itu, penderita diabetes sebaiknya membaca label nutrisi, memperhatikan ukuran sajian, serta memilih produk sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Susu tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan, tetapi tetap perlu diperhitungkan sebagai bagian dari asupan harian. Kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga pemilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan pengendalian gula darah dan rencana makan yang telah ditetapkan.

Bagaimana Cara Memilih Susu yang Lebih Sesuai?

Memilih susu tidak cukup hanya dengan melihat klaim tinggi kalsium atau tinggi protein pada kemasan. Kondisi tubuh dan komposisi produk juga perlu dipertimbangkan.

Berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan sebelum membeli susu.

  1. Periksa kandungan gula. Pilih produk tanpa tambahan gula jika ingin membatasi asupan gula harian.

  2. Sesuaikan kandungan lemak. Susu rendah lemak dapat dipertimbangkan jika perlu membatasi lemak jenuh.

  3. Perhatikan toleransi pencernaan. Susu bebas laktosa dapat membantu orang yang mengalami intoleransi laktosa, tetapi tidak cocok sebagai solusi alergi protein susu.

  4. Baca informasi nilai gizi. Periksa kandungan protein, kalori, kalsium, fosfor, dan kalium sesuai kebutuhan.

  5. Sesuaikan dengan kondisi medis. Orang dengan penyakit ginjal, diabetes, atau penyakit tertentu sebaiknya meminta saran dokter atau ahli gizi sebelum mengubah konsumsi susu secara signifikan.

  6. Pertimbangkan alternatif. Susu kedelai atau susu nabati lainnya dapat menjadi pilihan, tetapi kandungan zat gizinya berbeda-beda. Pilih produk yang diperkaya kalsium dan vitamin D jika membutuhkan kedua nutrisi tersebut.

Selain itu, susu yang telah melewati tanggal kedaluwarsa atau disimpan dengan cara yang tidak sesuai petunjuk kemasan sebaiknya tidak dikonsumsi. Produk susu yang memerlukan pendinginan juga harus disimpan pada suhu yang dianjurkan untuk membantu mencegah pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.

Penutup

Susu tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat karena menyediakan protein, kalsium, dan berbagai zat gizi penting. Namun, manfaat tersebut tidak berarti semua orang cocok mengonsumsi jenis susu yang sama atau boleh meminumnya tanpa memperhatikan jumlahnya.

Intoleransi laktosa, alergi protein susu, kebutuhan mengendalikan berat badan, diabetes, serta penyakit ginjal merupakan beberapa kondisi yang dapat memengaruhi pilihan susu. Kandungan lemak jenuh dan gula tambahan juga perlu diperhatikan agar konsumsi susu tidak berlebihan.

Pengetahuan gizi modern menunjukkan bahwa kualitas pola makan secara keseluruhan lebih penting daripada mengandalkan satu jenis makanan atau minuman. Karena itu, pilih susu berdasarkan kebutuhan tubuh, periksa komposisinya, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika memiliki kondisi medis tertentu.

Referensi

  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Symptoms & Causes of Lactose Intolerance.

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Eating, Diet, & Nutrition for Lactose Intolerance.

  3. Harvard T.H. Chan School of Public Health. Milk.

  4. Harvard T.H. Chan School of Public Health. Dairy.

Berita Terkait