Kue keranjang juga sering dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran saat Tahun Baru Imlek.
Secara tradisional, makan kue keranjang saat Tahun Baru Imlek dikatakan membawa kenaikan dan kemajuan dalam hidup, karena "nian" dalam nian gao berarti "tahun" dan "gao" berarti "tinggi" atau "naik".
Kepercayaan ini berasal dari permainan kata dalam bahasa Mandarin, di mana bunyi "gao" (banh) mirip dengan kata "naik" atau "naik".
Oleh karena itu, kue keranjang seringkali dikaitkan dengan harapan akan perkembangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun karir dan pendidikan.
Kue ini selain untuk disantap juga dapat dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat sebagai simbol ucapan selamat dan doa untuk kemajuan di tahun baru.
Selain itu, tekstur kue keranjang yang lengket juga melambangkan kekeluargaan yang erat dan bersatu.
Konsumsinya telah menjadi ritual Tahun Baru, dimana anggota keluarga berkumpul, berbagi kue dan berdoa untuk tahun yang lebih baik.
BACA JUGA:
- Imlek 2023: Bunga Prem, Kue Keranjang hingga Baju Cheongsam Jadi Barang Paling Laris di Tokopedia
- Apa Itu Kue Keranjang 'Nian Gao' Makanan Khas Imlek yang Rasanya Manis? Begini Sejarahnya
Dengan demikian, banh chung bukan sekedar hidangan tetapi juga alat untuk mempersatukan hubungan keluarga dan masyarakat, selain sebagai pembawa harapan dan keberuntungan.
Kue keranjang sendiri telah lama menjadi elemen penting dalam tradisi keluarga Tionghoa saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Membuat kue ini seringkali menjadi kegiatan keluarga, dimana anggota keluarga dari berbagai generasi menyiapkan sekeranjang kue bersama-sama.
Proses ini bukan sekedar proses memasak biasa namun juga mempererat tali kekeluargaan, berbagi cerita dan mewariskan tradisi dari generasi ke generasi.
BACA JUGA: