Jadi, di musim dingin, di penghujung tahun, ketika Nian turun gunung untuk mencari mangsa, penduduk desa meletakkan lentera dan gulungan merah di depan rumah mereka.
Untuk membuat kerumunan, mereka pun menyalakan kembang api untuk membuat Nian takut mendekat.
Mitos dan kepercayaan tersebut terus berkembang dan dipertahankan hingga saat ini, hingga menjadi tradisi merayakan musim semi atau Tahun Baru Imlek.
Tahun Baru Imlek selalu berlangsung pada bulan Januari atau Februari, bertepatan dengan musim hujan.
Orang Tionghoa senang jika turun hujan saat Tahun Baru Imlek, karena artinya rejekinya berlimpah.(*)