fin.co.id - Kos-kosan di Keputih, Surabaya Timur ini menjadi sorotan internasional setelah terpilih sebagai finalis dalam Festival Arsitektur Dunia 2016.
Dikenal dengan nama Biophilic Boarding House, hunian ini menghadirkan desain inovatif yang mengusung prinsip "less is more" atau lebih sedikit, lebih bermakna.
Meski terletak di lahan sempit seluas 120 meter persegi, bangunan ini berhasil memaksimalkan ruang dengan luas total mencapai 250 meter persegi.
Salah satu konsep utama yang diterapkan dalam desain kos-kosan ini adalah menciptakan kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya.
Foto Desain Kos Kosan Minimalis Surabaya, Finalis Festival Arsitektur Dunia (Dokumen Instagram)
Disediakan Area Komunal, Dibangun di lantai 1 dan Rooftop
Komunal space di 1 satu dirancang terbuka tanpa atap, menghubungkan lantai bawah dan atas, menciptakan ruang lapang dan memungkinkan pergerakan udara maksimal.
Ruang ini bukan hanya tempat berinteraksi antar penghuni, tetapi juga berfungsi sebagai halaman dalam yang meningkatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami.
Di bagian atas, rooftop Kos Kosan ini digunakan tidak hanya sebagai ruang cuci jemur, tetapi juga bisa untuk menampung tandon air.
Lantai rooftop ditutupi kerikil untuk membantu mengurangi panas yang bisa mengganggu kenyamanan penghuni di bawahnya.
Foto Desain Kos Kosan Minimalis Surabaya, Finalis Festival Arsitektur Dunia (Dokumen Instagram)
Konsep Desain yang Mengutamakan Kesehata
Dengan segala fitur dan desain yang diterapkan, Biophilic Boarding House menjadi contoh nyata bagaimana desain arsitektur yang sederhana namun efektif.