Trend . 09/05/2025, 16:53 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Beberapa obat memiliki efek samping berupa kerontokan rambut. Ini termasuk obat kanker (kemoterapi), pengencer darah, antidepresan, obat tekanan darah, hingga isotretinoin untuk jerawat. Penggunaan pil kontrasepsi atau penghentian mendadak juga bisa memicu rambut rontok.
Penggunaan alat styling bersuhu tinggi, pewarna rambut kimiawi, bleaching, atau penggunaan sampo keras bisa merusak batang dan akar rambut. Gaya rambut yang terlalu ketat seperti ponytail atau kepang juga bisa memicu traction alopecia, yaitu kerontokan karena tarikan berlebihan.
Seiring bertambahnya usia, produksi hormon melambat, dan siklus pertumbuhan rambut pun ikut menurun. Rambut menjadi lebih tipis, mudah patah, dan rontok lebih cepat. Ini merupakan proses alami yang biasanya mulai terlihat sejak usia 40-an ke atas.
Berbagai kondisi medis seperti gangguan tiroid, diabetes, lupus, hingga penyakit ginjal atau liver dapat menimbulkan kerontokan rambut. Bahkan infeksi seperti sifilis dalam fase tertentu juga bisa memengaruhi pertumbuhan rambut.
Penyebab rambut rontok sangat bervariasi dan bisa saling berhubungan.
Mulai dari genetik, stres, kekurangan nutrisi, hingga masalah kesehatan yang lebih serius.
Jika kamu merasa rambut rontokmu tidak normal, sebaiknya konsultasikan ke dokter atau ahli kulit untuk diagnosis yang akurat dan penanganan yang sesuai.
Ingat, semakin cepat diketahui penyebabnya, semakin besar peluang untuk mencegah kebotakan permanen.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media