Kuliner . 01/06/2025, 10:28 WIB
Penulis : Aries Setianto | Editor : Aries Setianto
fin.co.id - Belakangan ini, topik seputar minyak babi kembali memicu perdebatan publik. Semua bermula dari viralnya sebuah kasus di Restoran Ayam Goreng Widuran, Solo, yang diduga menggunakan minyak babi tanpa memberi tahu para konsumennya. Situasi ini menimbulkan keresahan, bukan hanya dari sisi kehalalan makanan, tapi juga dari sudut pandang kesehatan.
Menanggapi hal tersebut, dr Dessy Suci Rachmawati, SpGK, seorang spesialis gizi klinik dari Alia Hospital Depok, memberikan penjelasan yang cukup menggugah. Ia menekankan bahwa penggunaan minyak babi bukan hanya persoalan keyakinan, tetapi juga memiliki konsekuensi kesehatan yang serius.
Menurut dr Dessy, memang benar bahwa minyak babi atau lard mengandung sejumlah asam lemak tak jenuh, seperti omega 3, 6, dan 9, yang umumnya dikenal bermanfaat bagi tubuh. Namun, yang kerap luput dari perhatian adalah fakta bahwa sekitar 40 persen dari kandungan minyak babi merupakan lemak jenuh.
Lemak jenuh ini, terang dr Dessy, bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kandungan tersebut dapat memicu peningkatan kadar kolesterol dalam darah, yang pada akhirnya bisa menyebabkan terbentuknya plak di pembuluh darah. Kondisi ini berisiko besar menimbulkan penyakit jantung iskemik, serta berbagai gangguan kesehatan lain yang berkaitan dengan sistem kardiovaskular.
Lebih lanjut, dr Dessy juga menyoroti bahaya yang muncul saat minyak babi dipanaskan dalam suhu tinggi. Proses pemanasan ini bisa merusak ikatan lemak, dan bahkan mengubahnya menjadi trans fat atau lemak trans. Jenis lemak ini sudah lama dikenal sebagai pemicu berbagai masalah kesehatan karena dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL).
“Apalagi dia dipanaskan di suhu tinggi ya. Artinya si ikatan-ikatan yang ada di lemaknya itu, dia juga akan rusak, yang nantinya juga bisa beralih lagi jadi trans fat… Lemak trans itu yang kurang bagus buat kesehatan,” jelasnya.
Kasus yang mencuat di Solo ini menjadi pengingat penting bagi konsumen untuk lebih waspada dan kritis terhadap bahan yang digunakan dalam makanan yang dikonsumsi. Di sisi lain, pelaku usaha kuliner juga diharapkan lebih transparan dalam menyampaikan informasi terkait bahan-bahan yang mereka pakai. Tidak hanya untuk menjaga kepercayaan pelanggan, tetapi juga demi tanggung jawab moral terhadap kesehatan masyarakat.
Pada akhirnya, isu seputar minyak babi ini bukan hanya soal rasa gurih yang ditawarkan, melainkan juga soal pilihan sadar dalam menjaga tubuh tetap sehat. Kejelasan informasi, edukasi gizi, dan kesadaran akan risiko kesehatan harus menjadi bagian dari konsumsi yang bertanggung jawab.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media