Kisah Singkat Nabi Ibrahim yang Hampir Sembelih Anaknya Atas Perintah Allah SWT

lifestyle.fin.co.id - 06/06/2025, 07:02 WIB

Kisah Singkat Nabi Ibrahim yang Hampir Sembelih Anaknya Atas Perintah Allah SWT

Ilustrasi : gurun pasir (iStock)

fin.co.id -  Sejarah ibadah qurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa penuh keikhlasan dan ketaatan ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai teladan bagi umat manusia.

Tradisi qurban kemudian diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW yang menyerukannya sebagai amalan utama pada Hari Raya Idul Adha, atau yang dikenal juga sebagai Hari Raya Haji, sebagai bentuk ibadah sekaligus wujud kepedulian sosial terhadap sesama.

Mengutip sumber Kisah Qurban, diceritakan bahwa Nabi Ibrahim sempat lama tidak dikaruniai keturunan. Setelah bertahun-tahun menanti, beliau pun memanjatkan doa kepada Allah hingga akhirnya dikaruniai seorang anak, yakni Nabi Ismail. Dari sinilah rangkaian kisah qurban bermula, menjadi bagian penting dalam sejarah peribadatan umat Islam hingga saat ini.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ash-Shafaat [37].

Kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim berupa kelahiran seorang anak yang kelak dikenal sebagai pribadi yang sabar, yakni Nabi Ismail. Anak tersebut lahir dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim.

Menurut catatan para sejarawan, Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia sekitar 86 tahun. Wallahu a’lam.

Dalam perjalanan hidupnya, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan putranya yang masih bayi ke sebuah lembah gersang yang tak berpenghuni. Di masa kenabian Rasulullah SAW, lokasi tersebut diketahui berada di sekitar Baitullah, tepatnya di atas wilayah sumur Zamzam dan kini menjadi bagian dari kompleks Masjidil Haram.

Di tempat itu, yang hanya ditandai oleh keberadaan sebuah pohon bernama Dauhah, Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Nabi Ismail. Belum ada satu pun manusia yang bermukim di sana. Kawasan itu kering kerontang, tanpa sumber air.

Sebelum beranjak pergi, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan bekal seadanya: satu kantong kulit berisi kurma dan satu wadah air dalam bejana dari kulit. 

Setelah itu Nabi Ibrahim berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata, “Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?” 

Pertanyaan itu diucapkan berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Hajar berkata kepadanya: “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” 

“Ya.” Jawab Nabi Ibrahim “Kalau begitu kami tidak disia-siakan.” Dan setelah itu Hajar pun kembali. 

Ibrahim pun berangkat sehingga ketika telah jauh sampai di Tsamiyah, beliau pun menghadapkan wajahnya ke Baitullah dan berdoa: 

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14] : 37)

Siti Hajar menyusui bayi Ismail sambil mengandalkan air yang tersedia untuk bertahan hidup. Namun, ketika persediaan air dalam bejana telah habis, ia dan anaknya mulai dilanda kehausan.

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Penulis FIN.CO.ID