Melihat Ismail yang mulai gelisah dan merengek karena haus, hati Hajar tak kuasa menahan pilu. Ia pun menjauh, tak sanggup melihat penderitaan putranya yang masih bayi.
Langkahnya membawanya ke Bukit Shafa, yang merupakan bukit terdekat dari tempat mereka berada. Ia menaiki bukit itu dan menatap ke arah lembah, berharap ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan. Namun, tak tampak seorang pun.
Dengan penuh kelelahan, Hajar turun dari Bukit Shafa dan melintasi lembah menuju Bukit Marwah. Di sana, ia kembali berdiri dan menengok ke segala penjuru, namun lagi-lagi tidak menemukan siapa pun.
Hajar terus mengulangi usaha ini—berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah—hingga tujuh kali. Dan ketika ia mendekati Bukit Marwah pada putaran terakhir, ia mendengar sebuah suara yang mengejutkannya.
Ia pun berkata, “Diam!” Maksudnya untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun mendengarnya.
"Engkau telah memperdengarkan. Adakah engkau dapat menolong?” Tiba-tiba ia mendapati Malaikat di dekat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya sehingga muncullah air.
Selanjutnya Ibunda Ismail membendung air dengan tangannya dan menciduknya dan air bertambah deras.
Nabi Muhammad bersabda: “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam – atau Beliau berkata: ‘seandainya dia tidak menciduk airnya- niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”
Kemudian ibunda Ismail minum dari air itu dan menyusui anaknya. Ismail tumbuh menjadi besar dan belajar Bahasa Arab di kalangan Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari, ayahnya, Nabi Ibrahim datang menjumpainya.
Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS Ash-Shafaat [37] : 102) Nabi Ibrahim datang menjumpai anaknya untuk menyampaikan perintah Allah agar menyembelihnya.
Di dinilah Nabi Ibrahim diuji. Anak yang puluhan tuhun dinantikan, setelahnya ditinggalkan di padang gersang, lalu diperintahkan untuk disembelih.
Meskipun sangat besar kecintaan beliau kepada keluarganya, namun beliau seorang yang teguh dan taat terhadap perintah Allah. Tidak sedikitpun beliau bergeming, bahkan bersegera ketika Allah memerintahkannya.
Nabi Ismail pun menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shafaat [37] : 102).
Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliu berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail.
Allah memujinya di dalam Al-Qur’an: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam [19] : 54).