Akbar Agung dari Kekaisaran Mughal memimpin India dalam masa keemasan. Ia menerapkan pajak tinggi namun adil, serta mengembangkan perdagangan internasional. Kekayaannya diperkirakan setara dengan USD 28,9 triliun atau sekitar Rp468.180 triliun, atau sekitar 25% PDB dunia saat itu.
Akbar dikenal sebagai penguasa yang toleran dan reformis. Ia memadukan kekuatan militer dengan kebijakan ekonomi progresif yang membuat kerajaan Mughal unggul di antara kekuatan dunia lainnya.
3. Kaisar Shenzong (1048–1085)
Sebagai pemimpin Dinasti Song, Kaisar Shenzong memerintah di puncak kejayaan ekonomi Tiongkok. Saat itu, kekaisarannya menguasai sekitar 30–40% kekayaan dunia, setara dengan USD 44,5 triliun atau Rp720.900 triliun.
Keberhasilan ini berkat perdagangan luar negeri, birokrasi yang efisien, dan pemanfaatan sumber daya alam secara optimal. Dinasti Song dianggap sebagai dinasti terkaya dalam sejarah Tiongkok.
2. Genghis Khan (1162–1227)
Pemimpin Kekaisaran Mongol ini membangun kekaisaran daratan terbesar yang pernah ada. Meski kekayaan pribadinya sulit diukur, ia diduga memiliki simpanan emas, berlian, dan sumber daya alam dalam jumlah yang luar biasa, diperkirakan bisa mencapai nilai triliunan dolar, atau ribuan triliun rupiah.
Kekayaannya berasal dari luasnya wilayah kekuasaan yang mencakup Eropa Timur hingga Asia Timur. Bahkan hingga kini, DNA Genghis Khan bisa dilacak pada lebih dari 16 juta orang di dunia.
1. Mansa Musa (1280–1337)
Mansa Musa adalah penguasa Kekaisaran Mali yang dikenal sebagai orang terkaya dalam sejarah. Kekayaannya hingga saat ini tak bisa tertandingi.
Ia menguasai lebih dari sepertiga pasokan emas dunia. Kekayaannya secara konservatif diperkirakan mencapai USD 400 miliar, atau sekitar Rp6.480 triliun, dan banyak sejarawan meyakini jumlah itu masih terlalu kecil.
Mansa Musa adalah seorang Muslim. Ia menganut agama Islam dan sangat dikenal karena perjalanan hajinya ke Mekah pada tahun 1324, yang merupakan salah satu momen paling terkenal dalam sejarah Islam dan ekonomi dunia.
Selama perjalanan haji itu, Mansa Musa membawa rombongan besar, sekitar 60.000 orang termasuk pengawal, budak, dan unta yang memuat emas. Ia membagikan begitu banyak emas di kota-kota yang dilewati, terutama di Kairo, sehingga menyebabkan inflasi di wilayah tersebut selama bertahun-tahun.
Selain menjalankan ibadah haji, ia juga membangun masjid, mempromosikan pendidikan Islam, dan mengembangkan pusat keilmuan Islam di Timbuktu, menjadikan Mali sebagai pusat intelektual dan budaya Islam di Afrika Barat saat itu. *