Otomotif . 21/09/2025, 16:43 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai merosotnya penjualan LCGC tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kebijakan, tetapi juga kondisi ekonomi yang menekan daya beli masyarakat. Menurutnya, kelas menengah bawah sebagai target utama pasar LCGC sedang mengalami tekanan, sementara kelas atas enggan mengeluarkan uang di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Jika LCGC dibandingkan dengan penjualan battery electric vehicle (BEV), jelas keliru jika pemerintah berharap LCGC bisa diselamatkan begitu saja. Segmen ini sedang terpukul cukup parah,” ujar Bebin saat dihubungi, Sabtu (20/9/2025).
Ia menambahkan, bila pemerintah ingin mendongkrak kembali penjualan LCGC, langkah tersebut harus dibarengi insentif konkret. “Harapannya memperbaiki penjualan otomotif, sebaiknya insentif diberikan dalam bentuk penurunan PPN dan penghapusan pajak barang mewah sampai batas harga tertentu,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam industri otomotif nasional. Konsumen semakin tertarik pada kendaraan listrik, sementara LCGC yang dulunya menjadi primadona kini harus mencari strategi baru agar tetap relevan. Dengan kebijakan insentif yang condong pada kendaraan listrik, masa depan LCGC akan sangat ditentukan oleh langkah pemerintah ke depan dalam menjaga keseimbangan pasar. (Bianca Khairunnisa)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media