Kasandra menilai, banyak pelaku kurang memiliki empati karena belum matang secara emosional. Dampaknya bukan hanya pada korban, tapi juga bisa menular secara sosial.
“Pelaku sering kali kurang empati karena belum matang secara emosional, sementara korban bisa mengalami trauma seperti stres, depresi, atau bahkan bunuh diri,” jelasnya.
Dampak Psikologis yang Serius
Efek bullying tidak berhenti di ruang sekolah. Korban sering membawa luka psikis hingga dewasa. Mereka kehilangan rasa percaya diri, sulit berinteraksi sosial, dan mengalami gangguan kesehatan mental.
Jika tidak ada intervensi dini, dampak ini bisa menghambat kualitas hidup dan prestasi belajar anak. Sementara pelaku, jika tidak diarahkan dengan benar, berpotensi tumbuh menjadi individu dengan perilaku agresif di masa depan.
Solusi: Pendekatan Holistik dan Multidisipliner
Kasandra menegaskan, penanganan bullying tak bisa dilakukan secara sepihak. Sekolah, orang tua, dan lingkungan sosial perlu bekerja sama lewat pendekatan multidisipliner.
“Setiap kasus kekerasan harus diselidiki secara komprehensif agar tidak terburu-buru menyalahkan satu pihak saja,” jelas Kasandra. Ia menekankan pentingnya intervensi holistik seperti konseling psikologis, pelatihan guru, dan edukasi siswa agar akar masalah benar-benar tuntas.
Pendekatan ini, lanjutnya, tidak hanya menyelesaikan kasus yang sedang terjadi, tetapi juga membangun budaya sekolah yang lebih empatik dan aman untuk semua siswa.
Kasus bullying di sekolah bukan sekadar masalah kenakalan remaja. Ia adalah cermin dari dinamika sosial, budaya, dan psikologis yang lebih dalam. Tanpa perubahan mindset dan sistem yang kuat, kasus serupa akan terus berulang. (ANT)