Trend . 12/11/2025, 19:24 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Percaya diri bukan sekadar soal penampilan, tapi juga soal bagaimana remaja menilai diri sendiri. Psikolog remaja dan anak lulusan Universitas Indonesia, Vera Itabiliana, menegaskan bahwa remaja bisa membangun rasa percaya diri dengan mulai fokus pada kelebihan diri sendiri.
“Remaja yang merasa “berbeda” atau sulit berteman sering kali menilai dirinya lebih negatif daripada yang sebenarnya,” kata Vera dikutip dari ANTARA di Jakarta, Rabu.
Langkah pertama, catat hal-hal kecil yang membuatmu bangga. Misalnya, sifat sabar, suka menolong, atau tekun. Dengan mencatat kelebihan diri, remaja bisa menggeser fokus dari kelemahan dan mulai melihat diri secara lebih positif.
Selain menulis hal positif tentang diri, remaja juga disarankan mengikuti kegiatan atau komunitas yang sesuai minat. Hal ini bukan sekadar mengisi waktu luang, tapi membuka peluang memperluas pertemanan tanpa tekanan. Ketika berada di lingkungan yang mendukung, rasa percaya diri akan berkembang secara alami.
Keberanian sosial tidak muncul begitu saja. Vera menyarankan remaja memulainya secara bertahap mulai dari menyapa teman duluan, memberi pujian, atau ikut diskusi ringan. Latihan sederhana ini membantu remaja merasa lebih nyaman dalam interaksi sosial dan mengurangi rasa canggung yang kerap menghantui.
Salah satu jebakan terbesar yang menurunkan percaya diri adalah membandingkan diri dengan orang lain. Vera menekankan, setiap orang memiliki waktu dan jalan tumbuh yang berbeda. Fokus pada perjalanan sendiri akan membuat remaja lebih tenang dan yakin menghadapi tantangan.
Percaya diri juga erat kaitannya dengan kesehatan fisik. Pola tidur yang cukup, konsumsi makanan sehat, dan aktivitas fisik rutin ternyata berpengaruh signifikan pada suasana hati dan stabilitas emosional. “Rawat diri sendiri. Pola tidur cukup, makan sehat, dan aktivitas fisik membantu suasana hati lebih stabil dan percaya diri,” ujar Vera.
Selain membangun percaya diri, remaja juga harus aman dari pengaruh negatif. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan deteksi dini, dukungan psikososial dari sekolah, hingga penguatan regulasi dan prosedur penanganan kekerasan sebagai upaya pencegahan paham ekstremisme pada anak.
Komisioner KPAI Klaster Pendidikan, Waktu Luang, dan Budaya, Aris Adi Leksono, menyoroti kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta yang melibatkan peserta didik sebagai terduga pelaku. Peristiwa ini menunjukkan bahwa keamanan di lingkungan sekolah tidak boleh diabaikan. Ia menekankan perlunya budaya sekolah yang ramah anak dan anti kekerasan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media