Mengonsumsi makanan dalam porsi besar saat sahur sering dilakukan dengan alasan agar tidak lapar seharian. Namun, pendekatan ini justru dapat sebabkan rasa lemas. Sistem pencernaan bekerja lebih keras, sehingga energi tubuh dialihkan untuk proses cerna, bukan untuk aktivitas fisik.
American Journal of Clinical Nutrition menjelaskan bahwa makan berlebihan dalam satu waktu dapat meningkatkan respons insulin dan mempercepat kelelahan pasca makan. Pada sahur, kondisi ini berdampak langsung pada penurunan stamina di pagi hari.
Kesimpulan
Menu sahur yang sebabkan rasa lemas setelah makan umumnya berkaitan dengan tingginya gula sederhana, dominasi karbohidrat olahan, lemak jenuh berlebih, serta porsi makan yang tidak terkontrol. Ilmu gizi modern menegaskan bahwa rasa lemas bukan disebabkan oleh puasa itu sendiri, melainkan oleh pilihan menu sahur yang tidak sesuai dengan kebutuhan metabolisme tubuh.
Dengan menghindari jenis menu tersebut, sahur dapat berfungsi optimal sebagai sumber energi jangka panjang. Pendekatan berbasis bukti ilmiah ini membantu menjaga stamina, konsentrasi, dan produktivitas selama menjalani ibadah puasa sepanjang hari.
Referensi:
Journal of Nutrition and Metabolism – Reactive Hypoglycemia and Morning Metabolism
British Journal of Nutrition – Sugar Intake and Energy Fluctuation
American Journal of Clinical Nutrition – Meal Size and Postprandial Fatigue
World Health Organization – Healthy Diet and Fat Consumption
Harvard T.H. Chan School of Public Health – Carbohydrates, Fiber, and Energy Stability