Trend . 26/01/2026, 21:17 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya tentang lampion merah, barongsai, dan kembang api. Di balik kemeriahan tersebut, terdapat tradisi penting yang sarat makna. Yakni menyajikan buah-buahan tertentu sebagai simbol doa dan harapan di tahun yang baru.
Dalam budaya Tionghoa, setiap buah dipercaya membawa pesan tersendiri—mulai dari rezeki, keberuntungan, hingga ketahanan hidup. Tak heran, pemilihan buah saat Imlek bukan sekadar soal rasa, melainkan filosofi mendalam.
Jeruk mandarin menjadi buah yang hampir tak pernah absen saat Imlek. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan. Sementara warna oranye keemasan dipercaya menyerupai emas.
Secara linguistik, penyebutan jeruk dalam bahasa Tionghoa memiliki kemiripan bunyi dengan kata keberuntungan.
“Menaruh jeruk mandarin di rumah saat Imlek dipercaya membuka pintu rezeki sepanjang tahun,” menurut kepercayaan tradisional Tionghoa.
Tak heran, jeruk sering ditata di meja tamu, altar, hingga dijadikan bingkisan Imlek.
Anggur menjadi buah favorit lain saat Imlek karena melambangkan kelimpahan dan kesuburan. Buah ini tumbuh bergerombol, yang dimaknai sebagai rezeki berlimpah dan keberuntungan yang terus bertambah.
Anggur merah dan hitam lebih sering dipilih karena warnanya diasosiasikan dengan kemewahan dan kejayaan.
Dalam budaya Tionghoa, buah tin dikenal dengan sebutan “li” yang memiliki makna homofon dengan kata mencapai atau meraih.
Makna ini menjadikan buah tin sebagai simbol:
Buah tin sering disajikan sebagai bentuk doa agar segala rencana di tahun baru dapat tercapai.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media