Religi . 02/02/2026, 15:30 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Tidur merupakan kebutuhan biologis manusia yang penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Saat Ramadan, aktivitas sehari-hari sering berubah karena adanya sahur, ibadah, dan berbuka puasa. Pertanyaan tentang boleh atau tidaknya tidur seharian saat berpuasa menjadi salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul di masyarakat.
Dalam perspektif fiqh, tidur pada dasarnya tidak membatalkan puasa. Puasa akan batal jika seseorang melakukan hal-hal yang secara eksplisit membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau hubungan suami istri di siang hari. Tidur, meski lama, tidak termasuk hal yang membatalkan puasa.
Namun, meskipun tidur tidak membatalkan puasa, beberapa ulama menekankan bahwa menyia-nyiakan waktu siang hari dengan tidur terus-menerus bisa dianggap kurang produktif dari sisi ibadah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Manfaatkan waktu mudamu sebelum datang masa tuamu, dan waktu siangmu sebelum malammu, serta waktu hidupmu sebelum datang matimu” (HR. Hakim). Hal ini mengingatkan umat Islam agar waktu tidak hanya dihabiskan untuk tidur, tetapi juga untuk beribadah dan aktivitas produktif.
Dari perspektif ilmu kesehatan modern, tidur berlebihan saat siang hari selama puasa dapat menimbulkan beberapa dampak:
Gangguan ritme sirkadian
Tidur terlalu lama di siang hari dapat mengganggu ritme biologis tubuh, membuat tubuh sulit menyesuaikan diri dengan pola tidur malam, termasuk sahur dan ibadah malam.
Penurunan energi dan mood
Meskipun tidur seharian terdengar mengembalikan energi, penelitian menunjukkan tidur siang yang berlebihan bisa membuat seseorang merasa lesu, kehilangan fokus, dan mudah stres.
Masalah pencernaan
Tidur berlebihan setelah sahur atau sebelum berbuka puasa dapat mempengaruhi metabolisme dan proses pencernaan, sehingga tubuh tidak memanfaatkan nutrisi dengan optimal.
Kurangnya aktivitas fisik
Puasa membutuhkan energi seimbang, dan aktivitas fisik ringan membantu menjaga kesehatan jantung dan metabolisme. Terlalu banyak tidur membuat tubuh lebih pasif, meningkatkan risiko gangguan metabolik.
Agar tidur tidak mengganggu puasa dan kesehatan, beberapa rekomendasi dapat diikuti:
Tidur malam cukup
Pastikan tidur malam sekitar 6–8 jam agar tubuh mendapatkan istirahat optimal.
Tidur siang singkat
Tidur siang 20–30 menit dapat meningkatkan energi tanpa mengganggu ritme sirkadian.
Jaga pola sahur dan berbuka
Bangun untuk sahur dan berbuka tepat waktu membantu tubuh tetap seimbang.
Tetap aktif
Sisihkan waktu untuk shalat, dzikir, atau aktivitas ringan seperti berjalan untuk menjaga tubuh tetap bergerak.
Tidur seharian tidak membatalkan puasa dan dibolehkan secara syariat. Namun, dari perspektif kesehatan dan produktivitas, tidur berlebihan tidak dianjurkan karena dapat mengganggu ritme biologis, energi, dan kesehatan secara keseluruhan. Puasa Ramadan idealnya menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan antara istirahat, ibadah, dan aktivitas fisik agar tubuh dan jiwa tetap sehat.
Referensi:
Sahih Hadith of Hakim tentang manfaat waktu dan aktivitas
Sleep and Circadian Rhythms During Ramadan – Journal of Sleep Research
Effects of Daytime Napping on Cognitive Performance – Sleep Medicine Reviews
Fasting and Health: Review of Physiological Effects – New England Journal of Medicine
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media