Religi . 02/02/2026, 16:53 WIB

Bukan dari Arab! Ternyata Ini Asal-usul Bedug dan Kentongan yang Jarang Diketahui

Penulis : Wanda Afifah  |  Editor : Wanda Afifah

fin.co.id - Pernahkah kamu membayangkan suasana Ramadan tanpa suara bedug yang menggelegar atau ketukan kentongan yang ritmis? Saat senja tiba, bunyi ini menjadi primadona yang paling kita tunggu-tunggu. Namun, tahukah kamu bahwa alat musik tradisional ini menyimpan sejarah panjang yang sangat mengejutkan? Jangan sampai kamu menjadi orang terakhir yang tahu bahwa tradisi ikonik ini sebenarnya lahir dari akulturasi budaya yang sangat kaya.

Bedug dan kentongan bukan sekadar alat kayu biasa. Keduanya adalah simbol persatuan yang sudah ada jauh sebelum teknologi pengeras suara ditemukan. Kehadiran mereka di teras masjid atau mushola setiap bulan suci memiliki alasan yang sangat kuat, baik dari sisi fungsional maupun nilai spiritual yang mendalam bagi masyarakat Indonesia.

Asal-usul Bedug: Jejak Laksamana Cheng Ho di Nusantara

Banyak orang mengira bedug murni berasal dari kebudayaan Arab. Faktanya, sejarah mencatat hal yang berbeda. Bedug merupakan hasil akulturasi antara budaya Tiongkok dan lokal Nusantara. Laksamana Cheng Ho, penjelajah legendaris dari China, memiliki peran besar dalam memperkenalkan alat ini saat menginjakkan kaki di tanah Jawa pada abad ke-15.

Awalnya, di Tiongkok, bedug berfungsi sebagai alat komunikasi militer atau penanda waktu di kuil-kuil. Saat Islam mulai berkembang pesat di Nusantara, para pemuka agama melihat potensi bedug sebagai alat pemanggil umat. Suaranya yang rendah namun mampu merambat jauh sangat efektif untuk mengumpulkan orang-orang dari berbagai penjuru desa guna menunaikan salat berjamaah.

Kini, bedug telah bertransformasi menjadi identitas budaya Muslim di Indonesia. Kayu nangka atau jati yang kuat, dipadukan dengan kulit sapi atau kerbau yang dikencangkan, menghasilkan frekuensi suara yang menenangkan sekaligus menggugah semangat ibadah di bulan Ramadan.

Kentongan: Dari Alat Keamanan Hingga Pengingat Sahur

Jika bedug adalah raja di sore hari menjelang maghrib, maka kentongan adalah "alarm" paling andal di waktu dini hari. Kentongan memiliki akar budaya yang sangat kuat pada masa kerajaan Hindu-Budha, terutama di era Majapahit. Fungsinya kala itu sangat krusial, mulai dari pemberi peringatan bahaya hingga penanda adanya musuh yang mendekat.

Saat bulan suci tiba, para pemuda desa berkeliling membawa kentongan kayu untuk membangunkan warga agar tidak melewatkan waktu sahur. Suara "thok-thok" yang nyaring dan repetitif ini sangat efektif menembus keheningan malam. Inilah cikal bakal tradisi "Obrog-obrog" atau ronda sahur yang hingga kini masih kita temui di berbagai pelosok daerah.

Ternyata, sejarah bedug dan kentongan membawa kita pada perjalanan melintasi waktu, dari kapal-kapal besar Tiongkok hingga kejayaan Majapahit. Di balik setiap dentumannya, ada pesan tentang kerukunan dan kedisiplinan waktu yang sangat relevan dengan nilai-nilai puasa Ramadan.

Jadi, saat kamu mendengar suara bedug nanti sore, ingatlah bahwa suara itu adalah jembatan sejarah yang menghubungkan kita dengan masa lalu. Mari terus jaga tradisi ini agar anak cucu kita tetap bisa merasakan kehangatan Ramadan yang autentik.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com