Apakah Puasa Tetap Sah jika Bangun Kesiangan dan Tidak Sahur?

lifestyle.fin.co.id - 03/02/2026, 12:33 WIB

Apakah Puasa Tetap Sah jika Bangun Kesiangan dan Tidak Sahur?

Kesiangan, Image: DALL·E 3

Manfaat Sahur dalam Tinjauan Kesehatan Modern

Meskipun sahur bukan syarat sah puasa, anjuran sahur memiliki relevansi kuat dengan kesehatan tubuh. Penelitian modern menunjukkan bahwa asupan makanan sebelum periode puasa panjang membantu menjaga kestabilan kadar gula darah, mengurangi risiko dehidrasi, serta mempertahankan daya tahan tubuh selama beraktivitas.

Tubuh manusia membutuhkan cadangan energi untuk menjalani puasa selama lebih dari dua belas jam. Sahur berperan sebagai sumber nutrisi terakhir sebelum tubuh memasuki fase puasa. Namun, secara fisiologis, tubuh tetap mampu beradaptasi ketika sahur terlewat, meskipun risiko lemas dan penurunan konsentrasi bisa meningkat.

Hal ini menunjukkan adanya keselarasan antara ajaran Islam yang menganjurkan sahur dan pengetahuan modern tentang kesehatan manusia. Anjuran tersebut bersifat maslahat, bukan kewajiban mutlak.

Kesalahpahaman yang Sering Terjadi di Masyarakat

Masih banyak anggapan bahwa tidak sahur berarti puasa tidak sah. Kesalahpahaman ini muncul karena sahur dianggap sebagai bagian wajib dari puasa Ramadan. Padahal, secara fikih, sahur adalah amalan sunnah yang sangat dianjurkan, bukan syarat sah.

Kesalahpahaman ini berpotensi menimbulkan keraguan dalam beribadah, bahkan membuat sebagian orang membatalkan puasa secara tidak perlu. Padahal, Islam memberikan kemudahan dan tidak membebani umatnya di luar batas kemampuan.

Pemahaman yang benar mengenai hukum puasa membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan keyakinan dan ketenangan.

Kesimpulan

Puasa Ramadan tetap sah meskipun seseorang bangun kesiangan dan tidak sempat sahur. Sahur merupakan amalan sunnah yang dianjurkan karena mengandung keberkahan dan manfaat kesehatan, tetapi bukan penentu sah atau tidaknya puasa. Keabsahan puasa ditentukan oleh niat yang dilakukan sebelum terbit fajar dan kemampuan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Pandangan fikih para ulama, hadis Nabi Muhammad SAW, serta pemahaman modern tentang kesehatan menunjukkan bahwa Islam mendorong sahur sebagai bentuk kebaikan dan kemudahan, bukan sebagai kewajiban mutlak. Dengan pemahaman ini, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan lebih tenang dan sesuai dengan ajaran yang benar.

Referensi:

Riyadh as-Salihin oleh Imam An-Nawawi

Sahih al-Bukhari

Sahih Muslim

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID