Religi . 12/02/2026, 09:50 WIB

Mengenal Munggahan: Tradisi Khas Nusantara dalam Menyambut Ramadan 1447 H

Penulis : Ari Nur Cahyo  |  Editor : Ari Nur Cahyo

fin.co.id - Umat Muslim di seluruh penjuru Indonesia tengah bersiap menyambut kedatangan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Maret 2026. Di tengah persiapan spiritual, masyarakat Indonesia kembali menghidupkan tradisi turun-temurun yang sarat akan makna sosial dan keagamaan, yakni Punggahan atau yang lebih populer dengan sebutan Munggahan.

Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan manifestasi rasa syukur dan kegembiraan kolektif. Biasanya, masyarakat menggelar Munggahan satu minggu hingga sehari sebelum fajar pertama bulan Ramadan menyapa. Praktiknya pun beragam, mulai dari makan bersama keluarga besar, berkumpul dengan kerabat, hingga mengadakan kenduri di masjid atau mushalla dengan rangkaian doa dan tahlil.

Para ahli agama menilai tradisi ini sama sekali tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sebaliknya, Munggahan menjadi pelengkap syiar dakwah yang sangat efektif di tanah air. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur seperti sedekah makanan, mempererat tali silaturahmi, dan yang paling utama adalah memupuk kegembiraan spiritual dalam menyambut bulan penuh ampunan.

Landasan utama dari pelaksanaan Munggahan adalah ungkapan rasa bahagia. Dalam literatur keislaman, kegembiraan menyambut Ramadan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Kitab Durrotun Nasihin mencatat sebuah hadis yang menekankan pentingnya sikap mental ini.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

"Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka Allah mengharamkan jasadnya masuk neraka."

Berdasarkan hadis tersebut, Munggahan menjadi sarana bagi umat Islam di Nusantara untuk mengekspresikan rasa syukur tersebut. Masyarakat percaya bahwa dengan merayakan kedatangan Ramadan melalui kebaikan sosial, mereka telah menyiapkan hati untuk beribadah secara totalitas selama sebulan penuh.

Bedah Makna: Antara Bahasa dan Filosofi

Secara etimologi, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan "munggah" sebagai sebutan untuk hari terakhir di bulan Ruwah atau Syakban, tepat sehari sebelum memulai puasa Ramadan. Sementara itu, "munggahan" merujuk pada tradisi berkumpul dan makan bersama untuk merayakan datangnya bulan suci.

Jika menilik dari perspektif bahasa Jawa, kata "munggahan" memiliki arti "naik". Secara filosofis, istilah ini melambangkan proses transisi atau kenaikan derajat spiritual manusia. Masyarakat menganggap Ramadan sebagai puncak dari rentetan bulan mulia sebelumnya, yakni Rajab dan Syakban.

Maka, "naik" ke bulan Ramadan mengindikasikan bahwa manusia harus meningkatkan kualitas diri, ibadah, dan kesucian hati. Ramadan adalah garis finis dari persiapan spiritual selama dua bulan sebelumnya, sehingga penyambutannya harus dilakukan dengan cara yang istimewa.

Tiga Hikmah Utama Tradisi Munggahan

Selain aspek seremoni, Munggahan menyimpan kebijakan dan kebajikan yang mendalam bagi mereka yang melaksanakannya. Berikut adalah tiga hikmah utama dari tradisi ini:

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com