Trend . 03/03/2026, 14:47 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Banyak orang berharap berat badan turun selama Ramadan. Secara logika, waktu makan yang lebih singkat seharusnya membuat asupan kalori berkurang. Namun kenyataannya, tidak sedikit yang justru mengalami kenaikan berat badan setelah satu bulan berpuasa.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa perubahan pola makan, kualitas makanan, dan ritme aktivitas selama Ramadan dapat memicu penambahan berat badan jika tidak dikelola dengan tepat. Lalu, apa saja penyebabnya?
Setelah menahan lapar dan haus selama lebih dari 12 jam, tubuh berada dalam kondisi sangat siap menerima asupan energi. Sayangnya, momen berbuka sering kali diisi dengan konsumsi makanan tinggi gula dan lemak.
Minuman manis, gorengan, makanan bersantan, hingga hidangan penutup tinggi kalori menjadi menu favorit. Dalam waktu singkat, kalori yang masuk bisa jauh melebihi kebutuhan harian.
Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health dalam laporan “The Nutrition Source: Carbohydrates and Blood Sugar”, lonjakan gula darah akibat konsumsi gula sederhana dapat memicu respons insulin yang tinggi. Ketika energi tidak segera digunakan, tubuh akan menyimpannya dalam bentuk lemak.
Inilah yang membuat berat badan perlahan meningkat meskipun waktu makan lebih singkat.
Istilah “balas dendam” sering digunakan untuk menggambarkan pola makan berlebihan saat berbuka. Rasa lapar ekstrem membuat seseorang cenderung makan cepat dan dalam porsi besar.
Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa makan terlalu cepat dapat mengganggu sinyal kenyang alami tubuh. Otak membutuhkan waktu sekitar 15–20 menit untuk mengenali rasa kenyang. Jika makanan dikonsumsi terlalu cepat, asupan kalori bisa berlebih sebelum tubuh menyadari bahwa kebutuhan energi sebenarnya sudah terpenuhi.
Akibatnya, surplus kalori terjadi hampir setiap hari sepanjang Ramadan.
Perubahan jadwal tidur dan pola aktivitas juga berperan besar. Banyak orang tidur lebih larut karena sahur, lalu merasa lemas di siang hari sehingga aktivitas fisik berkurang.
Data dari World Health Organization dalam “Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour” menegaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik berkontribusi langsung terhadap peningkatan berat badan dan risiko gangguan metabolik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media