Trend . 15/03/2026, 10:28 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Serangan jantung sering dianggap sebagai peristiwa yang datang tiba-tiba tanpa peringatan. Banyak orang berpikir kondisi ini hanya menimpa mereka yang sudah berusia lanjut atau memiliki riwayat penyakit tertentu. Padahal dalam banyak kasus, serangan jantung sebenarnya merupakan hasil dari proses panjang yang terjadi di dalam tubuh selama bertahun-tahun.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung terhambat atau terhenti. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah akibat penumpukan lemak dan kolesterol. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai penyakit arteri koroner.
Menurut lembaga kesehatan global World Health Organization, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Namun kabar baiknya, sebagian besar faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup.
Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner yang memasok oksigen ke otot jantung tersumbat. Penyumbatan ini biasanya terbentuk akibat plak yang menumpuk pada dinding pembuluh darah.
Plak tersebut terdiri dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lain yang terbawa dalam aliran darah. Seiring waktu, plak dapat mengeras dan mempersempit pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi terbatas.
Jika plak pecah, tubuh akan membentuk gumpalan darah di area tersebut. Gumpalan inilah yang dapat menutup aliran darah secara total dan menyebabkan serangan jantung.
Para ahli dari American Heart Association menjelaskan bahwa proses ini biasanya berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memicu kondisi darurat.
Ada beberapa faktor yang diketahui meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung. Sebagian faktor memang tidak dapat diubah, tetapi banyak di antaranya dapat dikendalikan.
Beberapa faktor risiko utama meliputi:
tekanan darah tinggi
kadar kolesterol tinggi
diabetes
kebiasaan merokok
obesitas
kurang aktivitas fisik
pola makan tidak sehat
stres berkepanjangan
Usia dan faktor genetik juga berperan. Jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung, risikonya dapat meningkat.
Namun para peneliti menegaskan bahwa faktor gaya hidup tetap menjadi penyebab terbesar yang dapat dimodifikasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media