Kuliner . 22/03/2026, 19:18 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Perayaan Idulfitri di Yogyakarta selalu identik dengan kehangatan silaturahmi yang dibalut dalam tradisi kuliner unik. Di tengah gempuran kue kering modern seperti nastar dan kastengel, Yogyakarta sebenarnya memiliki deretan suguhan khas yang kini mulai jarang ditemui di meja tamu wilayah perkotaan, namun tetap dirindukan.
Mengamati meja tamu warga Jogja saat Lebaran memberikan gambaran tentang kekayaan rasa lokal. Berikut adalah lima suguhan tradisional yang menjadi identitas nostalgia bagi siapa saja yang merayakan hari kemenangan di Kota Pelajar ini:
1. Ampyang: Simbol Manisnya Kehidupan
Bagi pencinta rasa manis, Ampyang adalah camilan wajib. Terbuat dari perpaduan kacang tanah dan gula jawa (gula merah), camilan ini menawarkan tekstur keras yang renyah dengan rasa manis karamel yang dominan. Ampyang bukan sekadar makanan, melainkan representasi lidah masyarakat Jogja yang sangat akrab dengan cita rasa manis yang legit.
2. Yangko: Mochi Lokal yang Mengenyangkan
Sering dijuluki sebagai "Mochi Jawa", Yangko tetap menjadi primadona yang ditunggu-tunggu. Teksturnya yang kenyal dan lembut dengan isian kacang tanah halus memberikan sensasi gurih di tengah rasa manisnya. Berbeda dengan camilan ringan lainnya, Yangko cenderung mengenyangkan karena berbahan dasar tepung ketan yang padat.
3. Perpaduan Unik Tape Ketan dan Emping
Salah satu cara menikmati suguhan Lebaran paling otentik di Jogja adalah menyantap tape ketan bersama emping melinjo. Perpaduan rasa asam segar dari hasil fermentasi ragi dengan gurihnya emping menciptakan keseimbangan rasa yang unik. Cara makannya pun khas, yakni menggunakan emping sebagai "sendok" untuk menciduk tape ketan sebelum disantap bersamaan.
4. Keripik Belut: Ikon dari Sisi Barat
Menuju ke arah barat Yogyakarta, tepatnya di daerah Godean, Seyegan, dan Minggir, tamu akan sering menjumpai keripik belut. Camilan ini terbuat dari belut segar yang dibalut tepung berbumbu dan digoreng hingga garing. Meskipun berbasis ikan, keripik belut khas Jogja ini dikenal tidak amis dan memiliki kegurihan yang membuatnya sering dijadikan pendamping nasi selain sebagai camilan meja.
5. Keripik Bayam yang Sederhana namun Nagih
Keripik bayam menjadi bukti bahwa bahan sederhana bisa menjadi suguhan istimewa. Daun bayam lebar yang dibalut tepung tipis dan digoreng renyah selalu berhasil membuat tangan sulit berhenti mengambilnya. Teksturnya yang ringan dan renyah menjadikan camilan ini favorit segala usia, terutama saat berkunjung ke rumah sanak saudara di daerah perdesaan yang masih memegang teguh tradisi suguhan lokal.
Meski tren konsumsi masyarakat mulai beralih ke produk pabrikan, kehadiran lima jajanan tradisional ini tetap memiliki tempat spesial. Kehadirannya di meja tamu seolah memanggil kembali memori masa kecil dan memperkuat identitas budaya Yogyakarta yang tak lekang oleh waktu.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media