Trend . 23/04/2026, 19:26 WIB

Tren Properti 2026: Alasan Zillennial Lebih Pilih Sewa Rumah daripada KPR

Penulis : Wanda Afifah  |  Editor : Wanda Afifah

fin.co.id - Generasi Z dan milenial yang kini sering disebut sebagai “Zillennial” mulai mengubah peta pasar properti di Jakarta. Mereka tidak lagi memandang rumah sebagai simbol kesuksesan atau instrumen investasi utama. Sebaliknya, pola pikir ini justru memicu perubahan besar di industri properti yang selama ini bergantung pada pembeli rumah pertama.

CEO PT Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, mengungkapkan fenomena ini dalam forum Asia Connect: Indonesia CEO & Leaders Forum 2026 di Jakarta. Ia menegaskan bahwa generasi muda kini lebih fleksibel dalam menentukan pilihan tempat tinggal.

“Membeli rumah itu tidak lagi dianggap sebagai investasi. Memiliki rumah juga tidak lagi dianggap sebagai indikator sukses. Kalau mau tinggal di Jakarta ya sewa, itu pilihan mereka sekarang,” ujarnya dikutip dari ANTARA.

Zillennial Berubah, Pasar Properti Ikut Bergeser

Di kawasan Jabodetabek, jumlah penduduk mencapai sekitar 32 juta jiwa. Menariknya, sekitar 50 persen merupakan kelompok usia produktif, segmen yang selama ini menjadi target utama pasar properti. Namun, tren menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial justru menunda bahkan menghindari pembelian rumah.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Ada dua faktor utama yang mendorong fenomena tersebut yakni harga properti yang semakin tidak terjangkau dan produk hunian yang tidak relevan dengan kebutuhan mereka.

Dari sisi harga, kenaikan properti terus melampaui pertumbuhan pendapatan. Kondisi ini memaksa generasi muda untuk memilih antara menjaga kualitas hidup atau mengejar kepemilikan aset. Apalagi, aturan perbankan memungkinkan hingga 50 persen penghasilan digunakan untuk cicilan KPR, angka yang cukup membebani bagi sebagian besar anak muda.

Akibatnya, banyak yang memilih untuk menyewa daripada terikat cicilan jangka panjang.

Data Mengejutkan: Puluhan Ribu Unit Tak Laku

Masalah tidak berhenti di harga. Dari sisi produk, data menunjukkan adanya ketidaksesuaian serius antara apa yang ditawarkan pengembang dan apa yang diinginkan pasar.

Leads Property mencatat sekitar 41.300 unit properti di Jakarta belum terjual. Dari jumlah tersebut, 11.300 unit berasal dari proyek yang tertahan, sementara 30.000 unit lainnya berasal dari proyek eksisting.

Yang lebih mencengangkan, sekitar 90 persen dari total unit tersebut tidak memenuhi kriteria ideal bagi generasi muda.

Kenapa bisa begitu?

Mayoritas unit dinilai terlalu kecil, kualitas finishing bangunan tidak sesuai ekspektasi, dan konsep “apartemen terjangkau” versi pengembang tidak sejalan dengan standar hunian layak menurut konsumen.

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar produk yang salah tetapi produk yang salah untuk generasi yang berbeda.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com