Zillennial Lebih Pilih Akses daripada Kepemilikan
CMO sekaligus Direktur Arsitektur Masgroup, M. Adhiguna Sosiawan, menambahkan bahwa perubahan gaya hidup juga berperan besar dalam fenomena ini.
Zillennial tumbuh di era digital yang serba instan dan berbasis akses. Mereka terbiasa menikmati layanan tanpa harus memiliki, mulai dari musik hingga film.
“Mereka lahir di zaman di mana kalau mau nonton lagu tinggal Spotify, nonton film tinggal Netflix. Kebiasaan menyewa itu sudah menjadi bagian dari cara hidup mereka,” jelasnya.
Pola pikir ini kemudian terbawa ke sektor properti. Alih-alih membeli, mereka lebih memilih fleksibilitas dengan menyewa hunian yang sesuai kebutuhan.
Hunian Ideal Versi Generasi Muda
Meski terlihat enggan membeli, bukan berarti minat terhadap properti hilang sepenuhnya. Generasi muda tetap tertarik, asalkan produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ada empat kriteria utama yang menjadi pertimbangan:
- Kualitas bangunan yang layak
- Pengelolaan gedung yang profesional
- Lokasi dekat transportasi umum
- Harga yang masih masuk akal
Selain itu, Gen Z dan milenial kini lebih fokus pada fungsi daripada luas ruang. Mereka tidak lagi mengejar ukuran besar, tetapi lebih mengutamakan efisiensi dan desain yang optimal.
“Yang penting pemanfaatan ruangnya itu optimal, layoutnya bagus,” kata Adhiguna.
Alarm untuk Pengembang: Harus Adaptif atau Tertinggal
Kondisi ini menjadi sinyal keras bagi para pengembang properti. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan formula lama dalam membangun hunian.
Hendra menekankan pentingnya perubahan strategi, mulai dari penyesuaian harga hingga peningkatan kualitas bangunan. Selain itu, proyek-proyek yang tertahan juga perlu ditata ulang agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
“Ini bukan sekadar wrong product, tapi wrong product for wrong generations. Kita tidak bisa lagi membangun produk tradisional yang sama seperti dulu,” tegasnya.