Trend . 06/07/2026, 09:06 WIB
Penulis : Ari Nur Cahyo | Editor : Ari Nur Cahyo
fin.co.id - - Membeli rumah bekas merupakan langkah besar yang membutuhkan ketelitian tinggi. Banyak pembeli sering kali terjebak pada tampilan visual yang tampak rapi di foto listing, namun mengabaikan kondisi fisik serta legalitas di lapangan. Survei langsung ke lokasi menjadi tahap krusial untuk mengungkap masalah tersembunyi seperti kerusakan struktural, sengketa lahan, hingga dokumen yang tidak lengkap.
Idealnya, Anda perlu melakukan survei sebanyak dua hingga tiga kali pada waktu yang berbeda untuk mendapatkan gambaran akurat mengenai kondisi properti. Agar Anda tidak menyesal setelah transaksi selesai, perhatikan 10 aspek utama berikut saat menyurvei rumah bekas.
1. Periksa Struktur dan Pondasi Bangunan
Struktur bangunan menjadi aspek paling kritis. Periksa seluruh dinding untuk mendeteksi retak rambut (hairline crack) maupun retak struktural yang lebih dalam. Waspadai retak diagonal di sudut pintu atau jendela, karena hal itu sering menjadi indikasi penurunan pondasi yang serius. Anda dapat mengetuk permukaan dinding dengan buku jari; bunyi berongga menandakan plester sudah terlepas dari dinding. Selain itu, letakkan bola kecil di tengah ruangan untuk memastikan lantai tidak miring.
2. Evaluasi Instalasi Listrik
Periksa panel Miniature Circuit Breaker (MCB) dan kapasitas daya terpasang. Rumah yang berusia lebih dari 15 tahun umumnya memerlukan pembaruan instalasi. Pastikan stop kontak dan saklar tidak longgar atau menunjukkan tanda bekas terbakar. Tanyakan kepada penjual mengenai riwayat korsleting atau renovasi instalasi, mengingat biaya pembaruan sistem kelistrikan rumah ukuran sedang bisa mencapai Rp15–30 juta.
3. Cek Instalasi Air dan Plumbing
Nyalakan semua keran secara bersamaan untuk menguji tekanan air. Tekanan yang lemah sering kali disebabkan oleh pipa tersumbat, pompa air yang mulai lemah, atau masalah pada sumber air. Periksa area bawah wastafel, kloset, dan bak mandi untuk mendeteksi noda karat atau kebocoran. Jika rumah menggunakan sumur bor, lakukan uji kualitas air untuk memastikan tidak ada kontaminasi.
4. Waspadai Kelembapan dan Rembesan
Rembesan air adalah masalah paling umum sekaligus paling mahal untuk diperbaiki. Cari noda kekuningan atau kehitaman pada dinding, terutama di dekat kamar mandi, dapur, dan dinding luar. Bau apek yang menyengat saat Anda masuk rumah menjadi tanda kelembapan tinggi. Periksa area dinding setinggi 30–50 cm dari lantai karena bagian ini rawan rembesan kapiler dari tanah. Langkah terbaik, lakukan survei sesaat setelah hujan untuk melihat titik kebocoran yang sesungguhnya.
5. Pastikan Kondisi Atap dan Plafon
Amati kondisi genteng dari luar, apakah ada yang retak, bergeser, atau berlumut. Di bagian dalam, cek plafon untuk mencari noda air berbentuk lingkaran yang menandakan atap bocor. Jika memungkinkan, akses bagian rangka atap dan pastikan kayu tidak lapuk atau terserang rayap. Estimasi biaya penggantian atap rumah tipe 36 berkisar antara Rp20–50 juta, tergantung material yang Anda pilih.
6. Validasi Dokumen Legalitas
Jangan pernah kompromi terkait legalitas. Pastikan dokumen berikut tersedia dan sah:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media