Trend . 06/09/2026, 09:58 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai mencapai sebagian wilayah Jakarta setelah erupsi yang berlangsung sejak Jumat, 4 Agustus 2026.
Kemunculan abu vulkanik bukan sekadar persoalan jarak pandang atau kondisi udara yang terlihat lebih berdebu. Partikel abu juga dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan.
Berikut tiga risiko kesehatan yang perlu menjadi perhatian masyarakat.
Gangguan pernapasan menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian ketika masyarakat terpapar abu vulkanik. Partikel halus dari abu dapat masuk dan mengganggu saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan.
Anak-anak, lansia, serta penderita asma dan PPOK perlu meningkatkan kewaspadaan. Paparan abu vulkanik pada kelompok tersebut dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, pilek, hingga mengi.
Risiko tersebut juga tidak berhenti pada keluhan ringan. Jika paparan berlangsung cukup lama, risiko terhadap infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah ikut meningkat.
Selain mengganggu pernapasan, abu vulkanik juga dapat berdampak pada kulit. Sifat abu yang abrasif serta kandungan kimianya yang bersifat asam dapat memicu iritasi ketika mengenai kulit.
Paparan tersebut dapat menimbulkan sejumlah keluhan. Masyarakat yang terkena abu vulkanik dapat mengalami gatal, kemerahan, bengkak, hingga ruam yang terasa panas atau perih.
Mata juga menjadi bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian ketika abu vulkanik menyebar. Partikel abu memiliki bentuk yang tajam sehingga dapat mengiritasi mata ketika terjadi paparan.
Gangguan tersebut dapat memicu konjungtivitis. Sejumlah gejala bisa muncul, seperti mata memerah, gatal, nyeri, berair, hingga muncul sensasi seperti ada benda asing yang masuk ke mata.
Masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan gejala tersebut. Penanganan tetap diperlukan karena kerusakan pada kornea dapat menjadi permanen apabila kondisi tersebut dibiarkan terlalu lama.
Jadi, ketika debu tebal mulai terlihat, jangan tunggu sampai muncul gejala. Tingkatkan kewaspadaan dan kurangi aktivitas di luar rumah untuk meminimalkan paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media