Trend . 01/10/2026, 09:58 WIB

Mengenang Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober: Dari Tragedi G30S hingga Sumur Maut Lubang Buaya

Penulis : Ari Nur Cahyo  |  Editor : Ari Nur Cahyo

Kelompok Cakrabirawa mendatangi rumah para korban dengan dalih menjemput mereka atas panggilan Presiden Soekarno. Padahal, Presiden Soekarno tidak pernah mengeluarkan perintah apa pun.

Empat korban—R. Soeprapto, Sutoyo Siswomiharjo, S. Parman, dan Pierre Tendean—dibawa dalam keadaan hidup ke sebuah markas di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur, sebelum akhirnya dibunuh. Sementara itu, Ahmad Yani, M.T. Haryono, dan D.I. Panjaitan tewas ditembak di kediaman masing-masing.

Seluruh jenazah para pahlawan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua berdiameter 75 sentimeter dengan kedalaman 12 meter. Tim evakuasi baru berhasil mengangkat jasad mereka dari sumur maut tersebut pada 4 Oktober 1965.

Lolosnya Jenderal A.H. Nasution dan Gugurnya Ade Irma Suryani

Di tengah malam berdarah tersebut, Jenderal Abdul Haris Nasution (A.H. Nasution) berhasil lolos dari upaya penculikan berkat insting sang istri, Johana Sunarti Nasution, serta pengorbanan ajudannya, Pierre Tendean.

Johana mendengar suara kendaraan mencurigakan dan bunyi pintu yang dibuka secara paksa. Ia segera memantau situasi dan meminta suaminya mengunci kamar. Johana sempat menahan pintu kamar agar sang suami memiliki waktu untuk menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

Jenderal A.H. Nasution memanjat dinding rumah dan bersembunyi di halaman tetangga hingga pagi hari dengan kondisi pergelangan kaki patah. Meskipun berhasil selamat berkat lebatnya tanaman di sekitar dinding rumah, keluarga Nasution harus menelan pil pahit. Putri bungsu mereka yang baru berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, gugur akibat terjangan peluru pasukan penyerbu.

Penetapan Hari Kesaktian Pancasila dan Asal-Usul Nama Lubang Buaya

Pemerintah menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 153 Tahun 1967. Kata "kesaktian" dipilih untuk menegaskan bahwa ideologi negara tetap kokoh dan tidak tergoyahkan meski menghadapi rongrongan serta upaya penggulingan.

Di sisi lain, terdapat dua versi cerita rakyat mengenai asal-usul penamaan wilayah Lubang Buaya. Versi pertama menyebutkan bahwa sumur pembuangan tersebut berada di dekat aliran Sungai Sunter yang terkenal berbahaya karena banyak dihuni buaya yang kerap membuat lubang persembunyian.

Sementara versi kedua mengaitkan nama tersebut dengan legenda Mbah Datuk Banjir Pangeran Syarif Hidayatullah yang melintasi Sungai Sunter pada abad ke-7. Getek atau kendaraan bambu yang ia kendarai tersedot ke dalam lubang akibat ulah penunggu gaib sungai, yakni seekor siluman buaya putih bernama Pangeran Gagak Jakalumayung beserta anaknya yang berwujud buaya buntung.

Pasca tragedi 1965, pemerintah mendirikan Monumen Pancasila Sakti di sekitar lokasi sumur untuk mengenang jasa para Pahlawan Revolusi. Pada 2019, Sumur Maut Lubang Buaya resmi ditetapkan sebagai struktur cagar budaya nasional.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com