Suka Makan Cabai? Ini Fakta Penelitian tentang Kaitannya dengan Umur Panjang
Cabai bukan hanya memberikan rasa pedas pada makanan, tetapi juga mengandung senyawa aktif yang menarik perhatian para peneliti kesehatan. Sejumlah penelitian
fin.co.id - Cabai bukan hanya memberikan rasa pedas pada makanan, tetapi juga mengandung senyawa aktif yang menarik perhatian para peneliti kesehatan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa mengonsumsi makanan pedas memiliki risiko kematian yang relatif lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memakannya. Meski demikian, temuan ini tidak berarti bahwa semakin banyak cabai yang dikonsumsi, semakin panjang pula usia seseorang.
Hubungan antara kebiasaan makan pedas dan umur panjang masih menjadi topik penelitian karena melibatkan banyak faktor, mulai dari kandungan capsaicin hingga pola makan secara keseluruhan. Untuk memahami temuan tersebut, penting membedakan manfaat potensial cabai yang didukung penelitian dengan anggapan bahwa makanan pedas dapat menjamin umur panjang.
Kebiasaan Makan Pedas Menarik Perhatian Peneliti
Salah satu penelitian besar yang diterbitkan dalam jurnal The BMJ pada 2015 meneliti hubungan antara konsumsi makanan pedas dan risiko kematian. Penelitian tersebut melibatkan 487.375 orang dewasa di China dengan rentang usia 30 hingga 79 tahun.
Para peserta memberikan informasi mengenai kebiasaan makan mereka, termasuk seberapa sering mengonsumsi makanan pedas. Selanjutnya, peneliti memantau kondisi kesehatan dan kematian selama masa pengamatan dengan median 7,2 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan pedas enam hingga tujuh hari dalam seminggu memiliki risiko kematian relatif sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsinya kurang dari sekali seminggu. Analisis tersebut telah memperhitungkan sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi hasil.
Temuan ini cukup menarik karena menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan makan pedas dan kesehatan jangka panjang. Namun, penelitian tersebut tidak dirancang untuk membuktikan bahwa cabai secara langsung menyebabkan penurunan risiko kematian.
Bisa saja terdapat faktor lain yang turut berperan, seperti komposisi makanan, gaya hidup, atau kondisi kesehatan peserta. Oleh sebab itu, angka 14 persen tersebut tidak boleh diartikan sebagai jaminan bahwa penggemar makanan pedas akan hidup lebih lama.
Capsaicin Menjadi Salah Satu Kunci yang Diteliti
Rasa pedas pada cabai terutama berasal dari capsaicin, senyawa yang dapat memengaruhi reseptor sensorik tertentu dalam tubuh. Ketika cabai dikonsumsi, capsaicin mengaktifkan reseptor TRPV1 yang berperan dalam mendeteksi rangsangan panas. Inilah yang menyebabkan mulut terasa terbakar meskipun makanan tidak benar-benar panas.
Baca Juga
Selain menghasilkan sensasi pedas, capsaicin juga diteliti karena kemungkinan pengaruhnya terhadap sejumlah proses fisiologis. Penelitian laboratorium dan penelitian pada hewan menunjukkan bahwa senyawa ini dapat memengaruhi metabolisme energi, respons peradangan, dan mekanisme pengaturan rasa lapar.
Pada manusia, beberapa penelitian menemukan kemungkinan pengaruh capsaicin terhadap pengeluaran energi dan asupan makanan. Namun, hasilnya bervariasi, dan bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi cabai dapat memperpanjang usia.
Baca Juga
Capsaicin juga tidak bekerja sendirian. Cabai mengandung berbagai senyawa lain, termasuk karotenoid dan vitamin, dengan jumlah yang berbeda menurut jenis cabai serta cara pengolahannya.
Dengan demikian, manfaat potensial cabai perlu dipahami sebagai bagian dari penelitian mengenai pangan dan kesehatan, bukan sebagai bukti bahwa satu senyawa tertentu dapat mencegah semua penyakit.
Penelitian Lain Menemukan Hasil Serupa
Hubungan antara konsumsi cabai dan umur panjang juga diteliti di Amerika Serikat. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2017 menganalisis data 16.179 orang dewasa yang mengikuti survei kesehatan nasional.
Peneliti menemukan bahwa peserta yang melaporkan konsumsi cabai merah pedas memiliki risiko kematian selama masa tindak lanjut yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak melaporkan konsumsi tersebut.
Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian di China, meskipun kedua penelitian menggunakan populasi dan metode pengamatan yang berbeda. Kesamaan hasil tersebut membuat hubungan antara konsumsi cabai dan risiko kematian layak diteliti lebih lanjut.
Akan tetapi, penelitian di Amerika Serikat itu juga bersifat observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara kebiasaan konsumsi dan hasil kesehatan tanpa mengatur peserta untuk mengonsumsi cabai dalam jumlah tertentu.
Penelitian semacam ini dapat menemukan pola yang berguna, tetapi belum mampu memastikan apakah cabai menjadi penyebab langsung dari perbedaan risiko kematian. Bukti dari uji klinis jangka panjang yang secara khusus mengukur dampak konsumsi cabai terhadap umur manusia masih diperlukan.
Tidak Semua Hidangan Pedas Menyehatkan
Ada perbedaan penting antara mengonsumsi cabai sebagai bagian dari makanan bergizi dan mengonsumsi makanan olahan yang kebetulan memiliki rasa pedas.
Cabai segar dapat menambah cita rasa sekaligus menyediakan vitamin C dan karotenoid. Namun, ketika cabai diolah menjadi sambal atau saus, kandungan gizi akhirnya juga dipengaruhi bahan tambahan dan metode pengolahan.
Sambal yang dibuat dengan banyak garam atau minyak, misalnya, perlu dikonsumsi dengan memperhatikan kebutuhan tubuh. Demikian pula, makanan instan bercita rasa pedas tidak otomatis menjadi pilihan sehat hanya karena mengandung cabai.
Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi pertimbangan utama. Mengonsumsi cabai bersama sayuran, sumber protein, dan bahan pangan yang beragam berbeda dari menjadikan makanan tinggi garam dan lemak sebagai menu utama setiap hari.
Karena itu, manfaat potensial cabai tidak dapat digunakan untuk membenarkan konsumsi makanan yang kandungan gizinya kurang seimbang.
Apakah Makan Pedas Setiap Hari Aman?
Bagi orang yang dapat menoleransinya, cabai dapat dikonsumsi secara rutin dalam jumlah yang sesuai. Tidak ada keharusan untuk menghindari makanan pedas hanya karena rasa panas yang ditimbulkannya.
Meski begitu, toleransi setiap orang berbeda. Sebagian orang dapat menikmati sambal tanpa keluhan, sedangkan orang lain mengalami nyeri ulu hati, sensasi terbakar, atau gejala refluks setelah mengonsumsinya.
Makanan pedas juga dapat memperburuk gejala pada sebagian orang dengan sindrom iritasi usus, terutama ketika memicu nyeri perut atau diare. Jika keluhan muncul berulang kali, mengurangi konsumsi cabai dan memperhatikan pemicu makanan dapat membantu menentukan pola makan yang lebih nyaman.
Tidak perlu pula meningkatkan jumlah cabai secara berlebihan demi mengejar manfaat kesehatan. Belum ada jumlah konsumsi cabai harian yang terbukti secara ilmiah dapat menjamin umur panjang.
Kebiasaan yang Lebih Penting untuk Menjaga Umur Panjang
Walaupun cabai memiliki potensi manfaat yang menarik untuk diteliti, kesehatan jangka panjang tidak ditentukan oleh satu bahan makanan saja. Faktor genetik, lingkungan, kondisi medis, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup turut berperan dalam menentukan risiko penyakit serta harapan hidup.
Pola makan yang mengutamakan keragaman bahan pangan, kecukupan zat gizi, dan pengendalian asupan garam maupun gula memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan. Aktivitas fisik yang sesuai kemampuan, tidur cukup, tidak merokok, serta pemeriksaan kesehatan berkala juga merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko penyakit kronis.
Cabai dapat menjadi bagian dari pola makan tersebut selama sesuai dengan kondisi tubuh dan tidak membuat seseorang mengabaikan kebutuhan gizi lainnya.
Bagi orang yang menyukai makanan pedas, pendekatan yang masuk akal adalah tetap menikmati cabai secukupnya sambil menjaga kebiasaan sehat lain. Cara ini lebih sesuai dengan pemahaman ilmiah tentang kesehatan daripada menganggap kepedasan sebagai ukuran manfaat suatu makanan.
Penutup
Sejumlah penelitian pada populasi di China dan Amerika Serikat menemukan hubungan antara konsumsi cabai atau makanan pedas dan risiko kematian yang lebih rendah. Capsaicin, sebagai senyawa utama penyebab rasa pedas pada cabai, juga memiliki sejumlah potensi biologis yang terus dipelajari.
Namun, bukti yang ada belum membuktikan bahwa makan pedas secara langsung membuat seseorang hidup lebih lama. Penelitian observasional hanya menunjukkan hubungan, sedangkan pengaruh faktor lain belum dapat sepenuhnya disingkirkan.
Dengan demikian, kebiasaan makan pedas boleh menjadi bagian dari pola makan sehari-hari bagi orang yang dapat menoleransinya. Akan tetapi, upaya menjaga umur panjang tetap perlu bertumpu pada pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat secara menyeluruh.
Referensi
Lv J, dkk. “Consumption of Spicy Foods and Total and Cause Specific Mortality: Population Based Cohort Study.” The BMJ, 2015.
Chopan M, Littenberg B. “The Association of Hot Red Chili Pepper Consumption and Mortality: A Large Population-Based Cohort Study.” PLOS ONE, 2017.