Tradisi Rampogan Macan: Harimau Jawa Harus Mati! Hiburan Bangsawan Jawa untuk Menyambut Tamu dari VOC Belanda

lifestyle.fin.co.id - 28/03/2024, 16:25 WIB

Tradisi Rampogan Macan: Harimau Jawa Harus Mati! Hiburan Bangsawan Jawa untuk Menyambut Tamu dari VOC Belanda

Tradisi Rampogan Macan, Harimau Jawa Harus Mati

Harimau Jawa juga menjadi simbol kebangsawanan di mata orang Jawa pada masa itu. Namun, dalam konteks tradisi rampogan macan, harimau Jawa dilambangkan sebagai anasir kejahatan yang harus singkirkan. 

Tradisi rampogan macan ini ini dilakukan usai bulan Ramadan atau permulaan tahun baru Islam. Wessing mengutip Lizi Hope dalam Rampok Matjan tahun 1958, bahwa harimau adalah hewan yang ditakuti dan dibenci. 

Ada masa saat rampogan macan juga melambangkan pertikaian antara orang Jawa melawan Belanda. Kerbau atau banteng melambangkan orang Jawa. 

Sementara harimau melambangkan orang Belanda. Kerbau adalah hewan yang dekat dengan petani, pekerjaan yang banyak dilakukan orang Jawa pada masa itu. 

Sedangkan harimau dianggap pendatang seperti orang Belanda. Mereka datang dari luar yang hendak menguasai Pulau Jawa.


Tradisi Rampogan Macan, Harimau Jawa Harus Mati-fin/diolah-flora.fauna

BACA JUGA:

Pertarungan Kucing Besar dengan Manusia 

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dinyatakan punah oleh International Union for Conservation Nature (IUCN) pada 2003. Salah satu penyebab punahnya harimau Jawa adalah tradisi rampogan macan.

Apa itu rampogan macan? Ini adalah tradisi pertarungan antara kucing besar dengan manusia yang terjadi pada abad 17 hingga awal abad 19 di Jawa. 

Dulu orang Jawa menyebutnya rampogan macan. Yaitu sebuah tradisi pertunjukkan di tanah Jawa  yang melibatkan binatang buas seperti harimau, macan kumbang dan macan tutul. Orang Jawa menyebut 3 kucing besar ini sebagai macan.

Awalnya, rampogan merupakan upacara yang sakral. Namun setelah itu berubah menjadi hiburan. Nah, tradisi rampogan ini disebut-sebut jadi salah satu penyebab punahnya harimau Jawa. 

Selain faktor lain seperti pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan secara besar-besaran pada masa kolonial Belanda.

Soal Rampogan ini pernah ditulis oleh antropolog dan peneliti dari Universitas Leiden, Belanda, Robert Wessing melalui artikel berjudul A Tiger in The Heart: The Javanese Rampog Macan, yang terbit dalam sebuah jurnal di Belanda, 1992.

Rizal Husen
Rizal Husen
Penulis

Penulis FIN.CO.ID