Santa Claus, Versi Amerika yang Lebih Modern
Nah, Santa Claus adalah versi modern dari Sinterklas yang udah diadaptasi sama budaya Amerika.
Sosok Santa Claus pertama kali booming di abad ke-19, pas Coca-Cola pake dia dalam kampanye iklannya.
Jadilah Santa dengan gaya khas baju merah, ikat pinggang hitam, dan penampilan ceria yang kita kenal sekarang.
Santa Claus nggak cuma populer di Amerika, tapi juga mendunia berkat film, iklan, dan budaya pop.
Bedanya, Santa Claus ini identik banget sama perayaan Natal tanggal 25 Desember.
Tradisi ceritanya juga lebih simpel: Santa naik kereta luncur yang ditarik rusa kutub, masuk ke rumah lewat cerobong asap, dan naruh hadiah di bawah pohon Natal.
Sinterklas dalam tradisi aslinya di Belanda dikenal membagikan hadiah dengan cara yang berbeda dibandingkan Santa Claus.
Alih-alih kereta luncur yang ditarik rusa kutub, Sinterklas biasanya digambarkan naik kuda putih yang dikenal dengan nama Amerigo (atau dalam tradisi modern sering diganti nama lain).
Sinterklas dan asistennya, Zwarte Piet, berkeliling dari rumah ke rumah untuk memberikan hadiah kepada anak-anak yang berperilaku baik.
Kuda putih ini biasanya membantu Sinterklas melintasi atap-atap rumah, di mana Zwarte Piet turun untuk mengantarkan hadiah melalui cerobong asap.
Kenapa Orang Indonesia Nyebutnya Sinterklas?
Sebutan "Sinterklas" di Indonesia sebenernya diambil dari tradisi Belanda, mengingat sejarah penjajahan dulu.
Orang Indonesia lebih akrab sama istilah itu daripada "Santa Claus".
Jadi, meskipun di TV atau film kita lihat Santa Claus versi Amerika, tetep aja banyak yang nyebutnya Sinterklas.