Apa sebenarnya santet Segoro Pitu? Menurut pengakuan seorang kerabat bernama Pak Desardi, santet ini adalah salah satu bentuk kiriman mistis paling berbahaya.
Santet Segoro Pitu melibatkan kekuatan jin dari tujuh lautan, satu jenis santet yang hanya digunakan sebagai balas dendam berat.
Ardi terkejut mendengar bahwa ayahnya dulu pernah mendatangi dukun untuk penglaris usaha saat toko mereka baru dirintis.
Tindakan itu memicu rasa iri di antara pesaing, dan diduga menjadi alasan keluarga mereka jadi sasaran santet.
Ketika pengaruh santet terhadap keluarga Ardi makin kuat, tak hanya kondisi fisik sang ayah yang terus melemah, tapi juga mental seluruh anggota keluarga.
Ketakutan menjadi makanan sehari-hari. Rumah yang dulu penuh kehangatan berubah menjadi tempat yang menyeramkan, sunyi, dan gelap.
Puncak tragedi terjadi pada suatu malam saat ibu Ardi ditemukan meninggal dunia secara misterius di samping suaminya yang sudah terbaring lemah.
Diduga, sang ibu mengakhiri hidupnya sendiri karena tak kuat menanggung beban batin dan tekanan dari teror mistis yang terus menghantui.
Kehilangan itu membuat luka yang dalam di hati Ardi dan adik-adiknya. Sementara sang ayah perlahan kehilangan kesadaran dan menjadi vegetatif, tidak mampu berbicara, bergerak, atau memberi respon apa pun.
Misteri Santet Segoro Pitu Mulai Terungkap
Dalam masa berduka dan keterpurukan, seorang kerabat bernama Pak Desardi membuka tabir rahasia lama yang selama ini dikubur rapat.
Ia mengungkapkan bahwa ayah Ardi pernah menggunakan jasa dukun penglaris usaha pada masa-masa awal membangun toko.
Tindakan ini memicu kecemburuan dari para pedagang lain yang kemudian membalasnya dengan santet Segoro Pitu, jenis santet yang dipercaya menggunakan kekuatan gaib dari tujuh lautan, melibatkan jin laut yang ganas dan tak kenal ampun.
Kiriman santet ini ditujukan bukan hanya untuk menghancurkan fisik, tapi juga mental dan keturunan si target.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa persaingan usaha tidak sehat bisa berubah menjadi medan perang spiritual yang membawa malapetaka.