Trend . 27/05/2025, 15:46 WIB
Penulis : Sahroni | Editor : Sahroni
Di puncak kejayaannya, Pak Wirya diketahui rutin melakukan ritual pesugihan ke tempat-tempat angker. Tak ada yang tahu pasti lokasi tersebut, namun setiap kali ia kembali dari perjalanan itu, tokonya makin ramai pembeli, dan hartanya makin bertambah.
Namun takdir berkata lain. Suatu malam, kabar mengejutkan datang, Pak Wirya meninggal secara tiba-tiba di tempat ritual karena sesak napas.
Keluarganya menolak percaya dan bahkan melakukan otopsi, namun tak ditemukan racun atau riwayat penyakit jantung maupun asma.
Saat hari pemakaman, hujan deras disertai petir seolah menandai kemurkaan alam. Proses penguburan berjalan sulit, dan jenazah baru dimakamkan di tengah badai malam yang mencekam.
Setahun setelah kepergiannya, kemewahan keluarga Pak Wirya perlahan hancur. Usaha kain yang dulu laris kini sepi pengunjung, toko-toko tutup, dan anak-anaknya bangkrut.
Kain-kain mewah yang dulunya bernilai tinggi terpaksa dijual murah demi bertahan hidup.
Cerita horor pesugihan ini diyakini sebagai bukti bahwa harta hasil perjanjian gaib membawa kutukan turun-temurun.
Tumbal yang diminta tak berhenti pada sang pelaku, tetapi merembet pada keturunannya, baik itu anak, istri, bahkan cucu.
Kisah Pak Wirya adalah peringatan nyata bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Cerita pesugihan bukan sekadar mitos, tapi simbol dari kerakusan manusia yang tak mau bersabar dalam menjemput rezeki halal.
Apa yang terlihat gemilang di luar, bisa jadi menyimpan kelam di dalam. Dan bagi mereka yang memilih jalan instan, balasannya seringkali datang ketika semuanya sudah terlambat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media