Trend . 18/11/2025, 15:51 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
Secara anatomi, rahim ditopang oleh berbagai jaringan kuat seperti ligamentum dan struktur penahan lainnya. Namun, risiko tetap ada terutama dalam kondisi tertentu.
Nisa mengungkapkan, penanganan persalinan yang tidak sesuai prosedur dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk inversio uteri, kondisi ketika rahim terbalik atau terdorong keluar. Salah satu risiko muncul jika ada tindakan menarik plasenta terlalu cepat.
Kesalahan prosedur seperti ini dapat memicu situasi yang mengarah pada rahim lepas, meskipun kejadiannya tergolong sangat jarang.
Di tengah hebohnya kasus ini, Nisa mengaku turut bersimpati kepada pasien maupun dokter yang terlibat. Menurutnya, semua dokter kandungan selalu berharap proses persalinan berjalan aman, damai, dan minim risiko.
Namun ia menegaskan, dunia medis selalu punya kejutan. “Tidak menutup kemungkinan akan ada kasus-kasus baru yang perlu kita pelajari lebih cermat,” kata Nisa. Ia juga bersyukur karena pasien yang viral tersebut akhirnya tertolong dan pulih secara bertahap.
Nisa mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan lebih bijak memilih fasilitas kesehatan. Ia menekankan pentingnya mencari tenaga medis kompeten dan rutin melakukan kontrol kehamilan.
Hal ini penting agar risiko-risiko berbahaya seperti kasus tersebut bisa diminimalkan.
Kasus rahim copot yang dibagikan dr. Gia Pratama langsung memicu gelombang reaksi, diskusi, bahkan perdebatan di komunitas medis. Banyak pihak menilai kejadian tersebut mengerikan dan perlu dipelajari lebih dalam agar tidak menimbulkan salah paham di masyarakat.
Meski menakutkan, penjelasan dari tenaga medis berkompeten seperti dr. Nisa membantu publik memahami fakta medis tanpa kepanikan. (ANT)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media