Trend . 25/11/2025, 13:40 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Siapa sangka, kebiasaan memberi anak satu jenis protein yang sama setiap hari ternyata bisa berdampak pada kualitas gizinya? Di tengah gaya hidup yang serbacepat dan penuh tekanan ekonomi, banyak keluarga akhirnya mengandalkan menu yang itu-itu saja. Namun, ahli gizi klinis Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) mengingatkan bahwa keragaman protein memegang peran penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh.
Luciana menegaskan bahwa variasi protein bukan sekadar saran ideal, tetapi bagian dari prinsip gizi seimbang yang sudah lama dianjurkan. Anak membutuhkan menu makan tiga kali sehari dengan bahan pangan yang berbeda agar memperoleh zat gizi yang lengkap.
“Jika kita mengacu ke anjuran gizi seimbang yakni makan tiga kali sehari serta makan bervariasi untuk mendapatkan berbagai zat gizi, maka hanya mengonsumsi satu jenis protein dalam tiga waktu makan dapat berpotensi menyebabkan kekurangan zat gizi tertentu,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Selasa.
Menariknya, Luciana menjelaskan bahwa anak tidak otomatis mengalami kekurangan gizi hanya karena sering mendapat satu jenis protein. Faktor yang paling menentukan tetap porsi sesuai kebutuhan. Bila jumlah proteinnya terpenuhi, tubuh masih bisa bekerja dengan baik.
Namun, ia menegaskan bahwa prinsip gizi seimbang selalu mengutamakan keberagaman. Sampai saat ini memang belum ada penelitian khusus yang mengupas efek jangka panjang konsumsi satu sumber protein saja. Tetapi secara logis, variasi tetap menjadi strategi terbaik agar asupan nutrisi penting tidak ada yang terlewat.
Ia memberi contoh sederhana:
“Jika misalnya sarapan hanya telur, tetapi siang dan malam ada sumber protein lain, maka kebutuhan gizinya tetap bisa terpenuhi,” jelasnya.
Realita di lapangan menunjukkan bahwa banyak keluarga hanya mampu membeli satu jenis protein yang murah dan mudah dijangkau misalnya telur atau ikan tertentu. Luciana menilai kondisi ini wajar dan tidak masalah, selama porsinya tepat dan tetap ada upaya melakukan variasi saat memungkinkan.
Untuk keluarga dengan anggaran terbatas, ia menyarankan untuk memprioritaskan protein hewani dan nabati yang harganya terjangkau, seperti:
Menurut Luciana, strategi ini paling realistis untuk menjaga kualitas gizi anak tanpa membebani keuangan keluarga.
Tidak sedikit orang tua mengeluh bahwa anak hanya mau makan satu jenis makanan tertentu. Saat menghadapi kondisi ini, Luciana menyarankan melakukan pendekatan bertahap dan tanpa paksaan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media